begitulah cintaku
Tersadar
ku dalam lamunan ku, ketika ku jatuh lagi, , entah kenapa aku seperti tak sanggup lagi menapaki
langkahku. Hidupku adalah
pilihanku, namun ku telah kehilangan pilihan-pilihan itu, ku coba tuk raba lagi, barang kali ada sisa
harapan, namun hanya kotak kosong saja.
Sepercik
air membasahi wajahku yang redup, , mata air
sahabat,, mulai ku rajut lagi asaku..
Aku
merasa amatlah hampa, karena tak satu cinta yang dapat ku pilih. Semua seakan meninggalkanku, bahkan aku tak
pernah mengerti kenapa tak kurasakan
sosok sahabat didekatku. Karena
sangat sulit ku buka diri ini dari dunia yang akan menghinakanku.
Manusia
bodoh.. mungkin, itulah sebutanku.. namun ku manusia, bukan ibllis.. aku
manusia bukan malaikat.. bodoh,,,,karenaku rela masuk ke jurang gelap..
JURANG
GELAP...
Masih
saja setia dengan pekerjaan yang ia lakukan setiap hari, menunggu mu,, kau
masih saja tertidur lelap dengan wajahmu yang amatlah tenang. Ditemani, mesin disampingmu yang setiap
beberapa menit berbunyi, tit,,, dan uap uap air agar kau sejuk, kabel-kabel
yang menyelimuti tubuhmu. Yang ku
lakukan adalah mengganti bunga dalam vas yang telah layu, mengusap tangan dan
badan mu, yang tak dapat bergerak. Memandangi lekuk wajahmu, dan sesekali
menyeka air mataku sendiri yang jatuh kepipi.
Setiap hari ku ceritakan kegiatanku di sekolah, sepulang mengajar aku
pergi kekios kecilku. Mengecek apakah
anak-anak itu baik dan bisa melakukan tugasnya dengan baik. Setelah itu aku ketempatmu, duduk disampingmu
dan memandangi mu, terkadang membelai lembut pipimu. Aku takut lelah, aku takut lelah menunggumu
yang terus tidur, serasa tak pernah membutuhkan ku yang selalu mengharap kau
bangun dan bicara lagi padaku.
Banyak
wanita diluar sana yang juga baik, dan banyak yang menyukaiku. Namun, ku tetap menunggu seorang gadis yang
hampir setengah tahun tidur diranjangnya, yang aku sendiri tak tau kapan ia
akan bangun. Serasa menjadi pangeran
yang dengan ciuman bisa membangunkan putri tidur. Namun, aku tak dapat membangunkannya dari
mimpi indah itu. Dia lah wanita yang
membuatku mengabdikan hatiku dan hidupku padanya. Wanita yang tak tau turun dari langit lapis
berapa.
Dialah
istriku, 2 minggu lalu kuputuskan menikahinya.
Meskipun ia tak sadarkan diri, namun itulah yang kami rencanakan 6 bulan lalu.
Hari dimana kami seharusnya menikah, dia dan aku malah tersungkur
dijalan tol, dan dia pingsan bahkan sampai hari ini. Kenapa bukan aku yang tertidur, namun, jika ku yang tertidur aku takut dia
akan menderita karena aku tidak bisa melindunginya.
Sore
itu ku putuskan untuk datang rumah orang tua Ismi. Mereka kaget karena ku meminta rencana
pernikahan kami tetap dilaksanakan.
Awalnya mereka ragu, namun akhirnya setuju karena mengingat kami saling
menyayangi. Walaupun aku tidak akan
mendapat ucapan selamat dari teman-temanku, dan tidak dapat berbulan madu
seperti pasangan baru lain, aku tetap merasa bahagia, karena dialah wanita yang
ku sayang, yang mau menerima kekurangan lebih dari siapapun.
Tepatnya
4 Februari 2007 lalu, seusai pesta wisudaku, aku mengalami kecelakaan, kereta
yang ku tumpangi keluar dari jalur, dan aku adalah salah satu korban. Kakiku tidak dapat digunakan, aku harus
menggunakan kruk atau kursi roda untuk berpindah ketempat lain. Saat itu aku merasa dunia
meninggalkanku, dan semua mimpi telah
hancur disitu. Namun, seorang wanita
tetap setia menemaniku, sepulang dari
kuliahnya, ia selalu datang ku rumah, untuk menjengukku, memberiku motivasi dan
menghiburku.
Seperti
menapaki jalan tanpa cahaya, dan seperti makan tanpa lauk enak. Mengambil air di samping ku saja terasa
sangatlah sulit, ku harus menjulurkan tanganku sangat panjang dan menahan berat
tubuhku dengan tangan kiriku, karena mungkin ku bisa jatuh jika tak ku tahan
sendiri. Pipiku basah, hey, aku ini
pria, kenapa menangis,, hanya karena tidak
bisa mengambil air minum aku menangis.
Saat ku bayi dulu juga mungkin
aku menangis ketika tidak ada yang memberiku ASI. Kenapa dunia begitu tak adil, aku tak punya
orang tua, dan sekarang aku tak bisa berjalan. Bagaimana aku bisa menjalani
hidup, dan apakah aku akan selalu sendiri.
Dua
tahun berlalu dan Ismi sudah lulus sarjana.
Selama dua tahun itu Ismi yang mendampingi, ia ada disaat susah ataupun senang dan selama itu juga kami
meristis sebuah usaha, yaitu layanan fotografi dimana tempat untuk memesan
segala macam bentuk, mulai dari buku tahunan, cangkir, dan tentang desain2
lain, aku seorang sarjana hukum, namun aku lebih tertarik menjadi pengusaha
dari pada menjadi seorang jaksa atau yang lain.
Disamping karena keadaan fisikku yang kurang pantas juga kerena aku
ingin bisa membantu orang lain. Kami
mempekerjakan anak-anak putus sekolah dan kami latih serta diberi ketrampilan.
Sebenarnya saat itu kami berencana untuk liburan. Liburan kami tertunda, karena Ismi diterima
menjadi PNS, dan harus menjalani diklat selama 3 bulan. Sepulang diklat, aku ingin membuat kejutan
untuknya, dan kubuatlah makan malam yang romantis untuk kami.
“Mi,
gimana kamu suka suasananya?” tanyaku
sambil menggengam tangan yang lembut itu.
“Ah.
Lumayan,, ! kenapa pake ginian segala sih, boros2in uang tauk!” jawab Ismi
dengan nada tak enak.
“jah,
kamu ini, diajak romantis dikit g bisa ya?” kataku sambil mencubit hidungnya.
Kami
memang pasangan yang unik, jika bertemu kami hanya bertengkar dan berdebat tak
tentu. Namun kami saling menyayangi,
saat itulah aku melamarnya. Dan ia pun menerima. Kasih sayang kami amatlah mendalam,
dibuktikan dengan ia tidak mempermasalahkan keadaan fisikku yang tidak
sempurna. Ismi gadis yang manis, dan
sedikit tomboy, namun ia juga banyak di sukai oleh pria-pria diluar sana, namun
ia tetap setia bersamaku.
Berjalan
di sebuah pantai, bergandengan tangan, Ismi berlari “ayo kejar aku! Jelek!” kata dia. Lalu aku mengejarnya dan berhasil
menangkapnya, kami jatuh dipasir dan ombak menyapa kami. Kami saling dorong dan bermain air, ismi tersenyum dan tertawa riang. Sungguh
amat membahagiakan.
“ah...!”
kataku, “ternyata hanya mimpi” aku
tersenyum sambil memandanginya.
“Mi,
tau gak, mimpiin kamu nih aku, emmm!” kataku manja sambil mengeluh pipinya.
“besuk
kalo kamu udah bangun, aku janji bakalan kasih kamu apa yang kamu mau, bener
deh!” kataku sambil meringis padanya.
“ish,,,
kamu curang banget, seharusnya aku juga ikut tidur!!!”kataku mendekati tempat
tidur. Wanita itu tetap saja tertidur
lelapnya, tanpa memperdulikan perkataan, lagi-lagi ku usap pipiku yang
basah. Tuhan, kapan kau akan satukan
kami. Ku coba tetap tersenyum, dan aku
beranjak keluar untuk membeli makan pagi.
Sekembalinya
aku dari kantin rumah sakit, ketika ku akan membuka kamar Ismi. Lagi-lagi ku dengar celotehan tak enak dari
suster-suster itu. “kayaknya, sampai
kapan juga gak akan bangun,” kata seorang suster pada suster lain. “Ssstt, jangan sembarangan kamu!” suster lain
menegur. Lalu aku masuk dengan sedikit
membanting pintu. Lalu mereka buru-buru keluar karena memang sudah selesai
membersihkan tempat tidur Ismi.
Setiap
hari rabu, dokter rutin memeriksa kemajuan Ismi. Seusai memeriksa ia hampir sering mengatakan
hal yang sama “Maaf, pak, belum ada perkembangan pada Ibu Ismi sampai saat ini,
saya kira apa tidak lebih baik ibu Ismi dibawa pulang!” kata dokter itu. Tak tahan mendengar itu aku jatuhkan tongkatku
dan kutarik kerah dokter itu, dengan sangat marah aku berkata “Hey, bagaimana
mungkin kau berkata begitu sedang kau seorang dokter, membawanya pulang katamu,
itu berarti aku harus kehilangan istriku untuk selamanya, kau memang ..” lalu
suster-suster merelai kami, dan dokter itu minta maaf lalu pergi, aku
menjatuhkan diri ku kelantai, seorang suster ingin menolongku, namun ku minta
ia untuk pergi saja. Dengan uraian air
mata aku pandangi wanita yang terbaring ditempat tidur itu, wanita yang sangat
ku cintai. “Hey, apa kau senang, orang
lain berkata begitu, aku yang menunggumu, namun orang memintaku untuk
melepasmu!” aku berkata dengan sedikit membentak. Beberapa menit aku terdiam, aku merenungi
semuanya, lalu aku bangkit dan duduk di sebelah tempat tidur Ismi. Ku usap pipinya, namun kenapa tanganku basah,
“Apa kau menangis?” tanyaku lalu memandang wajah Ismi lebih dalam. “sayang, maaf atas perkataanku tadi, aku akan
menunggumu sampai kapanpun, ya?”kataku sambil tersenyum, meski airmataku
sedikit menetes!
Setelah
beberapa hari berlalu, aku pergi ke ruang baca, membuka beberapa buku yang
menarik hatiku. Lalu ada satu buku yang
membuatku sangat ingin melihatnya, letaknya dirak agak tinggi aku harus
memanjat satu rak untuk meraihnya tanganku bertumpu pada tongkat penyanggaku. Dan
“krek” tongkat itu patah, aku jatuh tersungkur buku yang kuraih itu
jatuh juga. Disaat itu juga aku
teringat Ismi, aku langsung beranjak dan mengambil tongkat itu. Entah mengapa aku ingin menangis, sambil
menangis ku coba satukan lagi tongkat itu, namun tetap tidak bisa. Aku berjalan
keluar tanpa tongkat itu meskipun terpincang-pincang, namun aku sampai juga
dirumah sakit. Dengan segera aku hampiri
Ismi, ku lihat dia, apa dia baik-baik saja atau tidak. Aku menghela nafas, “Kamu gak papa kan
sayang!” kataku sambil tersenyum padanya.
ku usap wajahnya yang lembab, “Maaf, tongkat yang kamu beri padaku waktu
itu patah, tapi aku janji, aku akan perbaiki, ya?” kataku lagi.
Waktu
itu saat ku sudah bisa berdiri, Ismi memberikan sebuah tongkat sebagai
hadiah. Tongkat itu sederhana, namun ada
ukiran nama ku dan namanya. “Ini, buat
kamu, supaya kamu lebih kokoh, anggep aja ini aku, yang selalu ada buat kamu.”
Kata Ismi waktu itu. Ya, aku masih ingat
betul dia berkat itu dengan penuh senyum dan suara riangnya.
Hari
ini hari kamis, dan aku mengunjungi rumah orang tua Ismi. Disela pembicaraan kami, ayah Ismi seperti
ingin mengatakan sesuatu pada namun seperti takut. Lalu akhirnya beliau angkat bicara, “Nak
Fais, bapak tau betapa kamu sangat menyayangi istri, dan bapak tau Ismi juga
sangat menyayangimu, tapi kalau Ismi dibiarkan begitu apakah kau tidak merasa
kasian padanya?” dan ini lah sebuah
pertanyaan amat ku takutkan selama ini, dan akhirnya benar, pertanyaan ini
pasti akan keluar juga. “Eng,,, maaf
pak, mungkin kita bicarakan ini lain waktu saja, saya ada urusan mendadak!”
kataku lalu beranjak keluar. Sambil
mengusap airmata ku yang keluar. Sungguh
aku tak ingin seperti ini, aku juga tak mengerti apa yang harus ku lakukan
sekarang.
Ditengah
kegundahanku itu, telpon ku berdering, dan ternyata itu dari rumah sakit. Aku langsung menuju kerumah sakit, ku lalui
lorong-lorong rumah sakit, dan ku buka sebuah pintu. “Ismi!!” teriak ku, kupandangi wajahnya,
amat menyejukkan hati. Ku dekati dia, ku
genggam tangan halusnya, berlahan tangan itu juga membalas genggamanku. “Mi, Ismi sayang!” kata sambil memandang dalam ke wajah dan
matanya. Air mataku menetes, dia membuka
matanya, berlahan. Dan ku dengar ia
menyebut namaku. Oh Tuhan, terima kasih. Sujudku dalam tangisku yang menderu. Ku bangkit lalu, mandangnya lagi, takut kalau
dia akan tidur panjang lagi. Ku genggam
lagi tangannya, kupandangi ia dengan penuh cinta dan kebahagiaan. “Kemana aja sih, aku ditinggal disini!” kata
Ismi memelas. “A,,, enggak ditinggal,
tadi aku kerumah bapak dan ibu.” Jawabku sedikit terharu.
Dua
hari setelah itu, kami pulang ke rumah untuk pertama kalinya, dan kuceritakan
semuanya, kuceritakan hari pernikahan kami, dan ia sangat gembira. Ia juga
menceritakan perjalanan panjangnya. “Fa,
aku beruntung bisa bersamamu, sangat beruntung!”
oOo
“Kakek,
Nenek, Fian sayang kalian!” kata seorang anak yang digendong ibunya, melambai
pada sebuah makam. “Sayang, doakan
selalu kakek Nenek ya?” kata ayahnya
sambil mencium kening Fian.
TAMAT
aku paling suka yang ini.. hehhehe,,
BalasHapus