Rabu, 18 April 2012

begitulah cintaku


begitulah cintaku
Tersadar ku dalam lamunan ku, ketika ku jatuh lagi, , entah kenapa  aku seperti tak sanggup lagi  menapaki  langkahku.  Hidupku adalah pilihanku, namun ku telah kehilangan pilihan-pilihan itu,  ku coba tuk raba lagi, barang kali ada sisa harapan, namun hanya kotak  kosong saja.

Sepercik air membasahi wajahku yang redup, , mata air  sahabat,, mulai ku rajut lagi asaku..
Aku merasa amatlah hampa, karena tak satu cinta yang dapat ku pilih.  Semua seakan meninggalkanku, bahkan aku tak pernah mengerti kenapa tak kurasakan  sosok sahabat didekatku.   Karena sangat sulit ku buka diri ini dari dunia yang akan menghinakanku.
Manusia bodoh.. mungkin, itulah sebutanku.. namun ku manusia, bukan ibllis.. aku manusia bukan malaikat.. bodoh,,,,karenaku rela masuk ke jurang gelap..
JURANG GELAP...

Masih saja setia dengan pekerjaan yang ia lakukan setiap hari, menunggu mu,, kau masih saja tertidur lelap dengan wajahmu yang amatlah tenang.  Ditemani, mesin disampingmu yang setiap beberapa menit berbunyi, tit,,, dan uap uap air agar kau sejuk, kabel-kabel yang menyelimuti tubuhmu.  Yang ku lakukan adalah mengganti bunga dalam vas yang telah layu, mengusap tangan dan badan mu,  yang tak dapat bergerak.  Memandangi lekuk wajahmu, dan sesekali menyeka air mataku sendiri yang jatuh kepipi.  Setiap hari ku ceritakan kegiatanku di sekolah, sepulang mengajar aku pergi kekios kecilku.  Mengecek apakah anak-anak itu baik dan bisa melakukan tugasnya dengan baik.  Setelah itu aku ketempatmu, duduk disampingmu dan memandangi mu, terkadang membelai lembut pipimu.  Aku takut lelah, aku takut lelah menunggumu yang terus tidur, serasa tak pernah membutuhkan ku yang selalu mengharap kau bangun dan bicara lagi padaku.
Banyak wanita diluar sana yang juga baik, dan banyak yang menyukaiku.  Namun, ku tetap menunggu seorang gadis yang hampir setengah tahun tidur diranjangnya, yang aku sendiri tak tau kapan ia akan bangun.  Serasa menjadi pangeran yang dengan ciuman bisa membangunkan putri tidur.  Namun, aku tak dapat membangunkannya dari mimpi indah itu.  Dia lah wanita yang membuatku mengabdikan hatiku dan hidupku padanya.  Wanita yang tak tau turun dari langit lapis berapa.
Dialah istriku, 2 minggu lalu kuputuskan menikahinya.  Meskipun ia tak sadarkan diri, namun itulah yang kami rencanakan  6 bulan lalu.  Hari dimana kami seharusnya menikah, dia dan aku malah tersungkur dijalan tol, dan dia pingsan bahkan sampai hari ini.  Kenapa bukan aku yang tertidur,  namun, jika ku yang tertidur aku takut dia akan menderita karena aku tidak bisa melindunginya. 
Sore itu ku putuskan untuk datang rumah orang tua Ismi.  Mereka kaget karena ku meminta rencana pernikahan kami tetap dilaksanakan.  Awalnya mereka ragu, namun akhirnya setuju karena mengingat kami saling menyayangi.   Walaupun aku tidak akan mendapat ucapan selamat dari teman-temanku, dan tidak dapat berbulan madu seperti pasangan baru lain, aku tetap merasa bahagia, karena dialah wanita yang ku sayang, yang mau menerima kekurangan lebih dari siapapun.
Tepatnya 4 Februari 2007 lalu, seusai pesta wisudaku, aku mengalami kecelakaan, kereta yang ku tumpangi keluar dari jalur, dan aku adalah salah satu korban.  Kakiku tidak dapat digunakan, aku harus menggunakan kruk atau kursi roda untuk berpindah ketempat lain.  Saat itu aku merasa dunia meninggalkanku,  dan semua mimpi telah hancur disitu.  Namun, seorang wanita tetap setia menemaniku,  sepulang dari kuliahnya, ia selalu datang ku rumah, untuk menjengukku, memberiku motivasi dan menghiburku.  
Seperti menapaki jalan tanpa cahaya, dan seperti makan tanpa lauk enak.  Mengambil air di samping ku saja terasa sangatlah sulit, ku harus menjulurkan tanganku sangat panjang dan menahan berat tubuhku dengan tangan kiriku, karena mungkin ku bisa jatuh jika tak ku tahan sendiri.  Pipiku basah, hey, aku ini pria, kenapa menangis,, hanya karena tidak  bisa mengambil air minum aku menangis.  Saat ku  bayi dulu juga mungkin aku menangis ketika tidak ada yang memberiku ASI.  Kenapa dunia begitu tak adil, aku tak punya orang tua, dan sekarang aku tak bisa berjalan. Bagaimana aku bisa menjalani hidup, dan apakah aku akan selalu sendiri.
Dua tahun berlalu dan Ismi sudah lulus sarjana.  Selama dua tahun itu Ismi yang mendampingi, ia ada disaat  susah ataupun senang dan selama itu juga kami meristis sebuah usaha, yaitu layanan fotografi dimana tempat untuk memesan segala macam bentuk, mulai dari buku tahunan, cangkir, dan tentang desain2 lain, aku seorang sarjana hukum, namun aku lebih tertarik menjadi pengusaha dari pada menjadi seorang jaksa atau yang lain.  Disamping karena keadaan fisikku yang kurang pantas juga kerena aku ingin bisa membantu orang lain.  Kami mempekerjakan anak-anak putus sekolah dan kami latih serta diberi ketrampilan. Sebenarnya saat itu kami berencana untuk liburan.  Liburan kami tertunda, karena Ismi diterima menjadi PNS, dan harus menjalani diklat selama 3 bulan.  Sepulang diklat, aku ingin membuat kejutan untuknya, dan kubuatlah makan malam yang romantis untuk kami.
“Mi, gimana kamu suka suasananya?”  tanyaku sambil menggengam tangan yang lembut itu.
“Ah. Lumayan,, ! kenapa pake ginian segala sih, boros2in uang tauk!” jawab Ismi dengan nada tak enak.
“jah, kamu ini, diajak romantis dikit g bisa ya?” kataku sambil mencubit hidungnya.
Kami memang pasangan yang unik, jika bertemu kami hanya bertengkar dan berdebat tak tentu.  Namun kami saling menyayangi, saat itulah aku melamarnya. Dan ia pun menerima.  Kasih sayang kami amatlah mendalam, dibuktikan dengan ia tidak mempermasalahkan keadaan fisikku yang tidak sempurna.  Ismi gadis yang manis, dan sedikit tomboy, namun ia juga banyak di sukai oleh pria-pria diluar sana, namun ia tetap setia bersamaku.
Berjalan di sebuah pantai, bergandengan tangan, Ismi berlari  “ayo kejar aku! Jelek!” kata dia.  Lalu aku mengejarnya dan berhasil menangkapnya, kami jatuh dipasir dan ombak menyapa kami.  Kami saling dorong dan bermain air,  ismi tersenyum dan tertawa riang. Sungguh amat membahagiakan.
“ah...!” kataku, “ternyata hanya mimpi”  aku tersenyum sambil memandanginya.
“Mi, tau gak, mimpiin kamu nih aku, emmm!” kataku manja sambil mengeluh pipinya.
“besuk kalo kamu udah bangun, aku janji bakalan kasih kamu apa yang kamu mau, bener deh!” kataku sambil meringis padanya.
“ish,,, kamu curang banget, seharusnya aku juga ikut tidur!!!”kataku mendekati tempat tidur.  Wanita itu tetap saja tertidur lelapnya, tanpa memperdulikan perkataan, lagi-lagi ku usap pipiku yang basah.  Tuhan, kapan kau akan satukan kami.  Ku coba tetap tersenyum, dan aku beranjak keluar untuk membeli makan pagi. 
Sekembalinya aku dari kantin rumah sakit, ketika ku akan membuka kamar Ismi.  Lagi-lagi ku dengar celotehan tak enak dari suster-suster itu.  “kayaknya, sampai kapan juga gak akan bangun,” kata seorang suster pada suster lain.  “Ssstt, jangan sembarangan kamu!” suster lain menegur.  Lalu aku masuk dengan sedikit membanting pintu. Lalu mereka buru-buru keluar karena memang sudah selesai membersihkan tempat tidur  Ismi.
Setiap hari rabu, dokter rutin memeriksa kemajuan Ismi.  Seusai memeriksa ia hampir sering mengatakan hal yang sama “Maaf, pak, belum ada perkembangan pada Ibu Ismi sampai saat ini, saya kira apa tidak lebih baik ibu Ismi dibawa pulang!”  kata dokter itu.  Tak tahan mendengar itu aku jatuhkan tongkatku dan kutarik kerah dokter itu, dengan sangat marah aku berkata “Hey, bagaimana mungkin kau berkata begitu sedang kau seorang dokter, membawanya pulang katamu, itu berarti aku harus kehilangan istriku untuk selamanya, kau memang ..” lalu suster-suster merelai kami, dan dokter itu minta maaf lalu pergi, aku menjatuhkan diri ku kelantai, seorang suster ingin menolongku, namun ku minta ia untuk pergi saja.  Dengan uraian air mata aku pandangi wanita yang terbaring ditempat tidur itu, wanita yang sangat ku cintai.  “Hey, apa kau senang, orang lain berkata begitu, aku yang menunggumu, namun orang memintaku untuk melepasmu!” aku berkata dengan sedikit membentak.  Beberapa menit aku terdiam, aku merenungi semuanya, lalu aku bangkit dan duduk di sebelah tempat tidur Ismi.  Ku usap pipinya, namun kenapa tanganku basah, “Apa kau menangis?” tanyaku lalu memandang wajah Ismi lebih dalam.  “sayang, maaf atas perkataanku tadi, aku akan menunggumu sampai kapanpun, ya?”kataku sambil tersenyum, meski airmataku sedikit menetes!
Setelah beberapa hari berlalu, aku pergi ke ruang baca, membuka beberapa buku yang menarik hatiku.  Lalu ada satu buku yang membuatku sangat ingin melihatnya, letaknya dirak agak tinggi aku harus memanjat satu rak untuk meraihnya tanganku bertumpu pada tongkat penyanggaku.  Dan  “krek” tongkat itu patah, aku jatuh tersungkur buku yang kuraih itu jatuh juga.   Disaat itu juga aku teringat Ismi, aku langsung beranjak dan mengambil tongkat itu.  Entah mengapa aku ingin menangis, sambil menangis ku coba satukan lagi tongkat itu, namun tetap tidak bisa. Aku berjalan keluar tanpa tongkat itu meskipun terpincang-pincang, namun aku sampai juga dirumah sakit.  Dengan segera aku hampiri Ismi, ku lihat dia, apa dia baik-baik saja atau tidak.  Aku menghela nafas, “Kamu gak papa kan sayang!” kataku sambil tersenyum padanya.  ku usap wajahnya yang lembab, “Maaf, tongkat yang kamu beri padaku waktu itu patah, tapi aku janji, aku akan perbaiki, ya?”  kataku lagi.
Waktu itu saat ku sudah bisa berdiri, Ismi memberikan sebuah tongkat sebagai hadiah.  Tongkat itu sederhana, namun ada ukiran nama ku dan namanya.  “Ini, buat kamu, supaya kamu lebih kokoh, anggep aja ini aku, yang selalu ada buat kamu.” Kata Ismi waktu itu.  Ya, aku masih ingat betul dia berkat itu dengan penuh senyum dan suara riangnya.
Hari ini hari kamis, dan aku mengunjungi rumah orang tua Ismi.  Disela pembicaraan kami, ayah Ismi seperti ingin mengatakan sesuatu pada namun seperti takut.  Lalu akhirnya beliau angkat bicara, “Nak Fais, bapak tau betapa kamu sangat menyayangi istri, dan bapak tau Ismi juga sangat menyayangimu, tapi kalau Ismi dibiarkan begitu apakah kau tidak merasa kasian padanya?”  dan ini lah sebuah pertanyaan amat ku takutkan selama ini, dan akhirnya benar, pertanyaan ini pasti akan keluar juga.   “Eng,,, maaf pak, mungkin kita bicarakan ini lain waktu saja, saya ada urusan mendadak!” kataku lalu beranjak keluar.  Sambil mengusap airmata ku yang keluar.  Sungguh aku tak ingin seperti ini, aku juga tak mengerti apa yang harus ku lakukan sekarang. 
Ditengah kegundahanku itu, telpon ku berdering, dan ternyata itu dari rumah sakit.   Aku langsung menuju kerumah sakit, ku lalui lorong-lorong rumah sakit, dan ku buka sebuah pintu.   “Ismi!!” teriak ku, kupandangi wajahnya, amat menyejukkan hati.  Ku dekati dia, ku genggam tangan halusnya, berlahan tangan itu juga membalas genggamanku.  “Mi, Ismi sayang!”  kata sambil memandang dalam ke wajah dan matanya.  Air mataku menetes, dia membuka matanya, berlahan.  Dan ku dengar ia menyebut namaku.  Oh Tuhan, terima kasih.  Sujudku dalam tangisku yang menderu.  Ku bangkit lalu, mandangnya lagi, takut kalau dia akan tidur panjang lagi.  Ku genggam lagi tangannya, kupandangi ia dengan penuh cinta dan kebahagiaan.  “Kemana aja sih, aku ditinggal disini!” kata Ismi memelas.  “A,,, enggak ditinggal, tadi aku kerumah bapak dan ibu.” Jawabku sedikit terharu.
Dua hari setelah itu, kami pulang ke rumah untuk pertama kalinya, dan kuceritakan semuanya, kuceritakan hari pernikahan kami, dan ia sangat gembira. Ia juga menceritakan perjalanan panjangnya.  “Fa, aku beruntung bisa bersamamu, sangat beruntung!”
oOo
“Kakek, Nenek, Fian sayang kalian!” kata seorang anak yang digendong ibunya, melambai pada sebuah makam.  “Sayang, doakan selalu kakek Nenek ya?”  kata ayahnya sambil mencium kening Fian.
TAMAT

1 komentar: