Hany Aratha, sebatas itu aku mengenalnya, dan bermodal nama itulah
aku mencarinya. Berbekal yang kupunya
saat ini, sebuah mobil, pekerjaanku di sebuah percetakaan besar di sebuah kota
kecil. Keberangkatan ku ke Jakarta,
mengambil cuti selama beberapa bulan, dengan alasan mencari inspirasi, ya itu
yang kulakukan. Hal pertama yang terbesit di pikiranku adalah mencari dimana ia
berada. Seingatku ia diterima menjadi mahasiswa di salah satu Universitas
ternama di Jakarta.
“Baiklah, akan ku temukan kau!!” kataku sambil berjalan menuju
gerbang kampus itu.
Berkeliling dan terus mencari-cari, sesekali melihat papan
pengumuman seakan melihat poster yang tertempel, padahal hanya ingin terlihat
tidak aneh. Aku menuju kantin, dan aku memesan segelas air minum. Masih dengan
kebodohanku berharap dengan mudah menemukan seseorang di tempat seluas ini
tanpa tau apa2 tentang dia.
“Kalau aku, tiap hari kayak gini, orang orang bisa curiga, ntar aku
dikira teroris, wkwkwkwk” hus”, kataku dalam hati.
“Wah, lama-lama bisa remuk badanku kalo kayak gini, mahasiswa tambah
banyak, pengunjung juga tambah banyak, karyawan dipecat semua sama bapak, gila
thu orang tua, gue disuruh kerja gini, padahal gue juga punya kehidupan!” kata
seorang pemuda yang sedang membersihkan meja di sampingku.
“Ehm, maaf mas, ada apa kok kelihatannya lagi murung gitu, lagi
putus cinta ya?” tanyaku sok akrab.
“Jiah, mas, orang baru ya? Mahasiswa baru ya?” tanyanya dengan akrab
dan langsung duduk di sambingku.
“Iya, saya baru. Hhehehe!” kataku agak ragu
“Perkenalkan aku Rio, anak yang punya kantin!” kata Rio
“Aku, Fadil!” jawabku sambil menyambut uluran tangan Rio.
Mulai saat itulah aku berteman dengan Rio, dan aku bisa berkerja di
kantin dengan alasan nambah uang jajan sebagai mahasiswa baru dari kampung. Yah, g papa lah , ini demi kamu.. Hany
Aratha! Kebetulan juga Rio mengajakku
untuk kos di tempatnya, jadi lebih akrab dan aku punya teman baru, eh,, kurasa
sahabat baru, karena dia membantu akan banyak hal. Orang tuanya juga sudah anggap aku seperti anaknya
sendiri, walaupun baru beberapa hari tinggal dirumahnya. Wah, sangat berbeda dengan dirumah, ya,,
namanya juga yatim piatu, di rumah sepi.
Seminggu berlalu, pelan-pelan aku masuk ke setiap sudut kampus,
bahkan aku punya kenalan dari organisasi-organisasi kampus. Mungkin lewat situ
aku bisa tau dimana dia. Suatu hari saat
aku sedang melayani pelanggan aku melihat seorang gadis ramah sedang bercanda
dengan temen2nya. Aku mengantarkan es jeruk dan bakso ke meja mereka. Dan saat
ku membalikan badan kudengar.
“Han, bukan gitu maksudku, si Febri dia suka sama kamu!” kata seorang temannya.
Jantung ku langsung berdebar kencang, apa dia hany, apa dia benar
Hany Aratha? Tanyaku dalam hati.
Mulai hari itu aku semakin sering bertemu gadis itu, dan aku semakin
yakin bahwa dia yang kucari, karena ku menemukan KTMnya yang tertinggal di
lantai kantin, mungkin terjatuh saat ia mengeluarkan uang dari dompetnya.
Sore itu, kupandangi fotonya, dan aku tersenyum, dia memang manis.
“woy, ngepel yang bener bro!” kata Rio sambil menepuk pundakku.
“hah, ngagetin aja kamu!” kataku sambil mengelus dadaku.
“wah, ada apa bro? punya sapa thu? Sini liat, (sambil merebut KTM
itu) wah, ini sih aku kenal, dia mb Hany, wah, tadi pasti jatuh, nemu dimana
kamu?” tanya Rio.
“Dilantai, aku nemu 2 hari yang lalu!!” kataku.
“wah, kenapa g bilang dari kemarin, kemarin dia nyariin ini kesini,
ya wis nanti tak kembalikan ke dia!” katanya.
Ternyata kostnya tidak jauh di tempat ku tinggal, dan aku mengajak
Rio untuk segara mengembalikan kartu itu,
dengan sedikit curiga Rio menyetujuinya. Akhirnya kau tau kostnya, ternyata Rio dekat dengan Hany, katanya
seperti kakaknya sendiri. Dan hari itu juga aku berkenalan dengannya, tapi sama
sekali ia tak mengenaliku, mungkin karena dulu hanya bermain chatting, jadi dia
tidak mengenaliku. Kami pernah dekat,
tapi dia punya komitmen kuat, jadi aku g pernah tau apa disebernarnya
menyukaiku atau tidak, tapi dari caranya dulu memperlakukanku, mungkin dia
punya rasa, meskipun hanya sedikit.
Hari itu aku bertemu yang kucari, tapi hari itu juga hatiku rasanya
sakit dan hancur. Ada pria yang datang
menjemputnya, pergi malam mingguan. Dia
sudah punya kekasih. Dan pencarianku sia-sia. Itu yang kupikirkan.
Malam itu aku tidak bisa tidur, aku terus berpikir dan berpikir, tak
kusangka, mudah juga menemukannya, aku bertemu Rio, mendapat pekerjaan, dan
hanya selang 1 minggu aku sudah bertemu Hany Aratha. Namun hari itu juga, aku
kehilangan lagi. Rio menghampiriku, dan
menanyakan mengapa setelah bertemu dengan Hany aku jadi murung. Aku cerita
semua, dan iapun mengerti. Keesokan
harinya aku pamit dengan Rio dan keluarganya, tapi takdir berkata lain, aku
masih dibutuhkan disitu, karena ayah Rio sakit dan harus segera di bawa ke
rumah sakit, aku mengantar dan menuggui bersama Rio. Ibu Rio tidak ikut karena ibu Rio juga sakit
dan tidak bisa pergi. Ayah Rio kena serangan jantung dan harus segera di
operasi.
“Operasi secepatnya dokter!” kataku pada dokter itu.
“Bro, gak mungkin itu, aku g punya biaya buat bayar!” kata Rio
murung
“Nggak usah mikirin biaya, biar aku yang tanggung semuanya!” jawabku
menyakinkan.
Rio memelukku dan menangis.
“biarpun aku nggak tau sebenarnya kamu itu siapa, tapi aku tau kamu
orang yang sangat baik!” katanya yang membuatku ikut menangis juga.
Disaat itu juga Hany datang dengan temannya, kebetulan teman Hany
adalah kekasih Rio. Saat asyik ngobrol,
tiba2 Hany mendapat telpon dari orang tuanya di Indramayu. Ia harus pulang segera karena saudara dari
Ausi datang.
“Han, maaf ya, aku g bisa nganter kamu, aku harus temeni Rio, kamu
telpon aja Febri!’’ kata Lia teman Hany.
“Iya, g pa2, aku bisa sendiri kok, udah, gak usah bawa2 Febri lagi,
aku dah ga ada apa2 sama Febri!” jawabnya dengan sedikit senyuman.
Rio menawarkan ku untuk mengantar Hany, ia berbohong bahwa aku juga
kan ke Indramayu agar ada kesempatan bicara. Dan akhirnya kau mengantarnya.
Didalam mobil dia hanya diam dan sesekali memandangiku. Aku menyalakan MP3 mobil dan masih dengan
lagu itu, lagu favoritnya. Dia sedikit
memandangku lebih lama, dan mulai berbincang, menanyakan asalku, dan profesiku.
Ku jawab apa adanya.
Dan kusebutkan sebutkan sebuah nama “Bintang, Tikus!”
Dia menoleh, dan berkata, “Ha, maksudnya?” tanyanya sedikit bingung.
Aku tersenyum, dan aku bilang siapa aku sebenarnya. Dia pun jadi
diam sangat diam. Entah mengapa dia jadi begitu. Aku menanyakan apakah ia masih
ingat, namun ia diam dan tertunduk. Saat
lambu merah ia masih tertunduk, entah mengapa ia jadi tertunduk seperti
itu. Saat ku liat dari bawah, setetes
air mata keluar menetes dari pipinya ke tangan. Dia menangis, mengapa dia
menangis.
“Kamu, jahat banget!” katanya.
“kenapa? Aku g ngerti!” kataku bingung.
Suasana dalam jadi hening, sangat hening, hanya suara detak
jantungku yang semakin kencang. Seakan
bicara dari hati ke hati. Aku hanya bisa
diam, karena aku jadi takut dan tegang, oh. .. entah kenapa jadi begini. Dia tak bicara apapun, hanya sesekali
memberitahu arah jalan. Aku tidak berani mengajaknya berbincang, karena aku
sendiri juga bingung, mungkin dia marah, tidak suka atau seperti apa aku tidak
mengerti.
Perjalanan bertambah panjang karena suasanan yang hening itu. Bodohnya aku, pikirku. Setelah melewati
beberapa tikungan dan gang kecil akhirnya sampai juga dirumahnya. Hari sudah petang, aku membukakan pintu
mobil. Dia hanya tertunduk, tak sepatah
kata pun ia ucapkan, meskipun hanya sekedar terimakasih atau basa-basi
mempersilakanku masuk. Dia masuk, dengan pandangan yang kosong, sangat kosong.
Dan aku juga hanya bisa diam melihatnya seperti itu, karena aku tidak mengerti
apa yang ia mau.
“Oh, aku langsung pamit aja ya? E…. salam buat orang rumah!!” kataku
sambil tersenyum tipis dan menggaruk rambutku yang sebenarnya tidak gatal.
Akupun langsung pulang.
Diperjalanan, hanya bisa bertanya-tanya, kenapa dia diam. Badanku rasanya jadi semakin lelah, menyetir
tanpa beristirahat. Tapi aku putus kan
untuk tidak istirahat, tapi aku langsung pulang ke rumah Rio. Sesampainya
dirumah Rio, aku langsung masuk kamar dan kurebahkan badan di kasur, oh..
rasanya lelahku sedikit berkurang, tapi hatiku masih terasa sangat sakit. Waktu
menunjukkan pukul 20.00 WIB, ku tutup mata berlahan, berharap tak terbuka
lagi..
HP ku berbunyi, sangat keras, sampai aku bangun, ku lihat jam, pukul
22.00 WIB, ku jawab telpon itu.
Terdengar suara seorang wanita.
“Tuan Bete, !” katanya.
Aku langsung bangkit dari tempat tidurku, mataku terbuka lebar,
kulihat cermin dan ku rapikan rambutku.
Itu adalah nama yang ku guna saat bermain chatting dulu.
“Ha?? Ya…. , siapa ?” tanyaku agak gugup.
Tak ku dengar suara apapun. Ku lihat layar hp, apa masih terhubung
atau tidak. Ku tempelkan lagi ke telingaku, berharap sebuah kata terucap lagi.
“Apa, aku masih bintang yang menerangimu?” tanyanya lagi.
Jantung rasanya berdebar lebih kencang dari upnormal, rasanya malah
seperti tidak berdetak lagi. Dia yang
menelponku, apa benar dia, Bintangku..
Tak kusangka selama ini, dia mencari ku juga, tapi tak satupun jejak
ku tinggalkan. Karena aku mulai Vakum
dari Chat, saat ku mulai kuliah dan bekerja, takut mengganggu hidupku. Dan
selama aku Vakum , ternyata dia menungguk Online lagi dan bisa di rum bersama
lagi. Namun, seperti prinsipku pada
awalnya, kau tidak akan Online lagi.
-oOo-
Kondisi ayah Rio semakin membaik, dan ibunya juga sudah sembuh. Kami jadi 2 pasang yang bahagia. Aku dekat dengan Hany, dan Rio semakin mesra
saja dengan kekasihnya. Hany mau
menerimaku dan mau menjalani hidupnya denganku. Setidaknya sekarang kami sangat
dekat. Rio mengatur sebuah liburan untuk
kami berempat. Di sebuah pantai, pantai bagian utara pulau Jawa…
Kami saling bergandengan, menyusuri pesisir pantai. Hatiku merasa sangat bahagia, hari-hari yang
berat dulu, kini terbayar sudah. Kudapat
dua sahabat dan satu kekasih.. tak pernah menyangka bisa bertemu dia.
Rio asyik membakar ikan dengan Lia.
Aku duduk disamping Hany, memandang laut yang luas. Sesekali aku pandang
wajahnya yang manis, dan sesekali juga ia memandangku. Senyum malu-malu ia torehkan dibibirnya.
“ Titik Dekap!!” kataku sambil tersenyum kearahnya.
“ Titik Tampar!!” katanya juga.
“ Kamu, gak berubah, tetep aja kayak gitu sama aku!” kataku agak
cemberut.
Tidak lama setelah itu, dia memelukku, benar benar memelukku. Wajahnya memerah, dan ia tertunduk malu.
“ Titik Ciumkening!!” kataku…
Kami bercanda tak habis-habisnya, itu adalah perintah dalam rum,
titik dekap untuk memeluk, titik tampar untuk menampar dan sebagainya. Setidak itu yang kami mainkan dulu.
-oOo-
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar