Kamis, 19 April 2012

PENCARIAN




Hany Aratha, sebatas itu aku mengenalnya, dan bermodal nama itulah aku mencarinya.  Berbekal yang kupunya saat ini, sebuah mobil, pekerjaanku di sebuah percetakaan besar di sebuah kota kecil.  Keberangkatan ku ke Jakarta, mengambil cuti selama beberapa bulan, dengan alasan mencari inspirasi, ya itu yang kulakukan. Hal pertama yang terbesit di pikiranku adalah mencari dimana ia berada. Seingatku ia diterima menjadi mahasiswa di salah satu Universitas ternama di Jakarta. 

“Baiklah, akan ku temukan kau!!” kataku sambil berjalan menuju gerbang kampus itu.

Berkeliling dan terus mencari-cari, sesekali melihat papan pengumuman seakan melihat poster yang tertempel, padahal hanya ingin terlihat tidak aneh. Aku menuju kantin, dan aku memesan segelas air minum. Masih dengan kebodohanku berharap dengan mudah menemukan seseorang di tempat seluas ini tanpa tau apa2 tentang dia.
“Kalau aku, tiap hari kayak gini, orang orang bisa curiga, ntar aku dikira teroris, wkwkwkwk” hus”, kataku dalam hati.

“Wah, lama-lama bisa remuk badanku kalo kayak gini, mahasiswa tambah banyak, pengunjung juga tambah banyak, karyawan dipecat semua sama bapak, gila thu orang tua, gue disuruh kerja gini, padahal gue juga punya kehidupan!” kata seorang pemuda yang sedang membersihkan meja di sampingku.
“Ehm, maaf mas, ada apa kok kelihatannya lagi murung gitu, lagi putus cinta ya?” tanyaku sok akrab.
“Jiah, mas, orang baru ya? Mahasiswa baru ya?” tanyanya dengan akrab dan langsung duduk di sambingku.
“Iya, saya baru. Hhehehe!” kataku agak ragu
“Perkenalkan aku Rio, anak yang punya kantin!” kata Rio
“Aku, Fadil!” jawabku sambil menyambut uluran tangan Rio.

Mulai saat itulah aku berteman dengan Rio, dan aku bisa berkerja di kantin dengan alasan nambah uang jajan sebagai mahasiswa baru dari kampung.  Yah, g papa lah , ini demi kamu.. Hany Aratha!  Kebetulan juga Rio mengajakku untuk kos di tempatnya, jadi lebih akrab dan aku punya teman baru, eh,, kurasa sahabat baru, karena dia membantu akan banyak hal.  Orang tuanya juga sudah anggap aku seperti anaknya sendiri, walaupun baru beberapa hari tinggal dirumahnya.  Wah, sangat berbeda dengan dirumah, ya,, namanya juga yatim piatu, di rumah sepi.
Seminggu berlalu, pelan-pelan aku masuk ke setiap sudut kampus, bahkan aku punya kenalan dari organisasi-organisasi kampus. Mungkin lewat situ aku bisa tau dimana dia.  Suatu hari saat aku sedang melayani pelanggan aku melihat seorang gadis ramah sedang bercanda dengan temen2nya. Aku mengantarkan es jeruk dan bakso ke meja mereka. Dan saat ku membalikan badan kudengar.
 
“Han, bukan gitu maksudku, si Febri dia suka sama kamu!” kata seorang temannya.

Jantung ku langsung berdebar kencang, apa dia hany, apa dia benar Hany Aratha? Tanyaku dalam hati.

Mulai hari itu aku semakin sering bertemu gadis itu, dan aku semakin yakin bahwa dia yang kucari, karena ku menemukan KTMnya yang tertinggal di lantai kantin, mungkin terjatuh saat ia mengeluarkan uang dari dompetnya.

Sore itu, kupandangi fotonya, dan aku tersenyum, dia memang manis.
“woy, ngepel yang bener bro!” kata Rio sambil menepuk pundakku.
“hah, ngagetin aja kamu!” kataku sambil mengelus dadaku.
“wah, ada apa bro? punya sapa thu? Sini liat, (sambil merebut KTM itu) wah, ini sih aku kenal, dia mb Hany, wah, tadi pasti jatuh, nemu dimana kamu?” tanya Rio.
“Dilantai, aku nemu 2 hari yang lalu!!” kataku.
“wah, kenapa g bilang dari kemarin, kemarin dia nyariin ini kesini, ya wis nanti tak kembalikan ke dia!” katanya.

Ternyata kostnya tidak jauh di tempat ku tinggal, dan aku mengajak Rio untuk segara mengembalikan kartu itu,  dengan sedikit curiga Rio menyetujuinya. Akhirnya kau tau kostnya,  ternyata Rio dekat dengan Hany, katanya seperti kakaknya sendiri. Dan hari itu juga aku berkenalan dengannya, tapi sama sekali ia tak mengenaliku, mungkin karena dulu hanya bermain chatting, jadi dia tidak mengenaliku.  Kami pernah dekat, tapi dia punya komitmen kuat, jadi aku g pernah tau apa disebernarnya menyukaiku atau tidak, tapi dari caranya dulu memperlakukanku, mungkin dia punya rasa, meskipun hanya sedikit.

Hari itu aku bertemu yang kucari, tapi hari itu juga hatiku rasanya sakit dan hancur.  Ada pria yang datang menjemputnya, pergi malam mingguan.  Dia sudah punya kekasih. Dan pencarianku sia-sia. Itu yang kupikirkan.

Malam itu aku tidak bisa tidur, aku terus berpikir dan berpikir, tak kusangka, mudah juga menemukannya, aku bertemu Rio, mendapat pekerjaan, dan hanya selang 1 minggu aku sudah bertemu Hany Aratha. Namun hari itu juga, aku kehilangan lagi.  Rio menghampiriku, dan menanyakan mengapa setelah bertemu dengan Hany aku jadi murung. Aku cerita semua, dan iapun mengerti.  Keesokan harinya aku pamit dengan Rio dan keluarganya, tapi takdir berkata lain, aku masih dibutuhkan disitu, karena ayah Rio sakit dan harus segera di bawa ke rumah sakit, aku mengantar dan menuggui bersama Rio.  Ibu Rio tidak ikut karena ibu Rio juga sakit dan tidak bisa pergi. Ayah Rio kena serangan jantung dan harus segera di operasi.
“Operasi secepatnya dokter!” kataku pada dokter itu.
“Bro, gak mungkin itu, aku g punya biaya buat bayar!” kata Rio murung
“Nggak usah mikirin biaya, biar aku yang tanggung semuanya!” jawabku menyakinkan.
Rio memelukku dan menangis.
“biarpun aku nggak tau sebenarnya kamu itu siapa, tapi aku tau kamu orang yang sangat baik!” katanya yang membuatku ikut menangis juga.

Disaat itu juga Hany datang dengan temannya, kebetulan teman Hany adalah kekasih Rio.  Saat asyik ngobrol, tiba2 Hany mendapat telpon dari orang tuanya di Indramayu.  Ia harus pulang segera karena saudara dari Ausi datang. 
“Han, maaf ya, aku g bisa nganter kamu, aku harus temeni Rio, kamu telpon aja Febri!’’ kata Lia teman Hany.
“Iya, g pa2, aku bisa sendiri kok, udah, gak usah bawa2 Febri lagi, aku dah ga ada apa2 sama Febri!” jawabnya dengan sedikit senyuman.
Rio menawarkan ku untuk mengantar Hany, ia berbohong bahwa aku juga kan ke Indramayu agar ada kesempatan bicara. Dan akhirnya kau mengantarnya. Didalam mobil dia hanya diam dan sesekali memandangiku.  Aku menyalakan MP3 mobil dan masih dengan lagu itu, lagu favoritnya.  Dia sedikit memandangku lebih lama, dan mulai berbincang, menanyakan asalku, dan profesiku. Ku jawab apa adanya.
Dan kusebutkan sebutkan sebuah nama “Bintang, Tikus!”
Dia menoleh, dan berkata, “Ha, maksudnya?” tanyanya sedikit bingung.

Aku tersenyum, dan aku bilang siapa aku sebenarnya. Dia pun jadi diam sangat diam. Entah mengapa dia jadi begitu. Aku menanyakan apakah ia masih ingat, namun ia diam dan tertunduk.  Saat lambu merah ia masih tertunduk, entah mengapa ia jadi tertunduk seperti itu.  Saat ku liat dari bawah, setetes air mata keluar menetes dari pipinya ke tangan. Dia menangis, mengapa dia menangis.
“Kamu, jahat banget!” katanya.
“kenapa? Aku g ngerti!” kataku bingung.

Suasana dalam jadi hening, sangat hening, hanya suara detak jantungku yang semakin kencang.  Seakan bicara dari hati ke hati.  Aku hanya bisa diam, karena aku jadi takut dan tegang, oh. .. entah kenapa jadi begini.  Dia tak bicara apapun, hanya sesekali memberitahu arah jalan. Aku tidak berani mengajaknya berbincang, karena aku sendiri juga bingung, mungkin dia marah, tidak suka atau seperti apa aku tidak mengerti.

Perjalanan bertambah panjang karena suasanan yang hening itu.  Bodohnya aku, pikirku. Setelah melewati beberapa tikungan dan gang kecil akhirnya sampai  juga dirumahnya.  Hari sudah petang, aku membukakan pintu mobil.  Dia hanya tertunduk, tak sepatah kata pun ia ucapkan, meskipun hanya sekedar terimakasih atau basa-basi mempersilakanku masuk. Dia masuk, dengan pandangan yang kosong, sangat kosong. Dan aku juga hanya bisa diam melihatnya seperti itu, karena aku tidak mengerti apa yang ia mau.

“Oh, aku langsung pamit aja ya? E…. salam buat orang rumah!!” kataku sambil tersenyum tipis dan menggaruk rambutku yang sebenarnya tidak gatal.
Akupun langsung pulang.  Diperjalanan, hanya bisa bertanya-tanya, kenapa dia diam.  Badanku rasanya jadi semakin lelah, menyetir tanpa beristirahat.  Tapi aku putus kan untuk tidak istirahat, tapi aku langsung pulang ke rumah Rio. Sesampainya dirumah Rio, aku langsung masuk kamar dan kurebahkan badan di kasur, oh.. rasanya lelahku sedikit berkurang, tapi hatiku masih terasa sangat sakit. Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB, ku tutup mata berlahan, berharap tak terbuka lagi..

HP ku berbunyi, sangat keras, sampai aku bangun, ku lihat jam, pukul 22.00 WIB, ku jawab telpon itu.  Terdengar suara seorang wanita.

“Tuan Bete, !” katanya.
Aku langsung bangkit dari tempat tidurku, mataku terbuka lebar, kulihat cermin dan ku rapikan rambutku.  Itu adalah nama yang ku guna saat bermain chatting dulu.

“Ha?? Ya…. , siapa ?” tanyaku agak gugup.

Tak ku dengar suara apapun. Ku lihat layar hp, apa masih terhubung atau tidak. Ku tempelkan lagi ke telingaku, berharap sebuah kata terucap lagi.

“Apa, aku masih bintang yang menerangimu?” tanyanya lagi.

Jantung rasanya berdebar lebih kencang dari upnormal, rasanya malah seperti tidak berdetak lagi.  Dia yang menelponku, apa benar dia, Bintangku..
Tak kusangka selama ini, dia mencari ku juga, tapi tak satupun jejak ku tinggalkan.  Karena aku mulai Vakum dari Chat, saat ku mulai kuliah dan bekerja, takut mengganggu hidupku. Dan selama aku Vakum , ternyata dia menungguk Online lagi dan bisa di rum bersama lagi.  Namun, seperti prinsipku pada awalnya, kau tidak akan Online lagi.

-oOo-


Kondisi ayah Rio semakin membaik, dan ibunya juga sudah sembuh.  Kami jadi 2 pasang yang bahagia.  Aku dekat dengan Hany, dan Rio semakin mesra saja dengan kekasihnya.  Hany mau menerimaku dan mau menjalani hidupnya denganku. Setidaknya sekarang kami sangat dekat.  Rio mengatur sebuah liburan untuk kami berempat. Di sebuah pantai, pantai bagian utara pulau Jawa…

Kami saling bergandengan, menyusuri pesisir pantai.  Hatiku merasa sangat bahagia, hari-hari yang berat dulu, kini terbayar sudah.  Kudapat dua sahabat dan satu kekasih.. tak pernah menyangka bisa bertemu dia.

Rio asyik membakar ikan dengan Lia.  Aku duduk disamping Hany, memandang laut yang luas. Sesekali aku pandang wajahnya yang manis, dan sesekali juga ia memandangku.  Senyum malu-malu ia torehkan dibibirnya.
“ Titik Dekap!!” kataku sambil tersenyum kearahnya.
“ Titik Tampar!!” katanya juga.
“ Kamu, gak berubah, tetep aja kayak gitu sama aku!” kataku agak cemberut.

Tidak lama setelah itu, dia memelukku, benar benar memelukku.  Wajahnya memerah, dan ia tertunduk malu.

“ Titik Ciumkening!!” kataku…

Kami bercanda tak habis-habisnya, itu adalah perintah dalam rum, titik dekap untuk memeluk, titik tampar untuk menampar dan sebagainya.  Setidak itu yang kami mainkan dulu.

-oOo-
TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar