Masa Orientasi Siswa tiba, siswa baru mengikuti itu mulai hari ini. Aku sebagai ketua Osis yang mengatur jalannya
MOS itu selama 1 minggu. Seperti MOS
pada umumnya, selalu identik dengan kekerasaan dan pelakuaan tidak adil dari
Kakak kelas. Sudah Pukul 7.00 dan hari
ini pertama MOS dimulai. Semua panitia dan peserta didik baru sudah masuk,
namun aku masih di depan gerbang menunggu barang kali ada yang terlambat.
Seorang gadis lari terenggah-enggah menghampiriku.
“Maaf, Kak! Saya terlambat!” katanya sambil tertunduk, mungkin dia
tau kalo aku panitia MOS karena aku memakai Jas Almamater.
Ku pandangi dia, sangat manis dan cantik, lembut dan anggun. Aku hanya tersenyum
didalam hatiku.
“HEY, kamu! Kenapa masih di situ, sana masuk dan masuk ke barisan!”
teriak Hendra sambil menghampiri kami.
“Oh, iya kak, maaf” jawabnya sambil lari menuju lapangan.
Aku tak berkata apapun, hanya tersenyum pada Hendra dan
masuk juga. Hendra adalah wakilku. Ia
yang mendominasi kepanitiaan. Aku hanya sekedar membantu meski status ku
sebagai ketua.
Saat makan siang, entah mengapa ada saja yang dihukum
setiap harinya. Ternyata itu adalah
Dinda, dia salah membawa makanan untuk hari ini. Hendra memaki dan memarahinya. Aku yang tak tega melihatnya lalu mendekat.
“Cukup, Ndra! Kamu lebih dibutuhkan disana, biar aku urus yang ini.”
Kataku tanpa Expresi.
“Okelah, kalau begitu!” kata Hendra dan pergi dari tempat itu.
Kupandangi saja wajahnya. Ia
hanya tertunduk tanpa kata.
“Minta hukuman apa, Din Da?” kataku sambil mengeja kartu pengenal
yang menempel di bajunya.
“Maaf, Kak,, dihukum apa saja, mau.” Kata Dinda dengan sedikit
menangis.
Bahkan saat menangis, ia masih saja cantik. Karena tak tega aku menyuruhnya duduk saja. Dan dia
mengusap air matanya sambil keheranan. Dengan sedikit senyum dan kedipan
mataku. Dia pun kembali ke tempat duduknya.
oOo
Hari terakhir MOS, ditutup dengan Pensi kecil. Setiap kelas mengirimkan wakilnya untuk
perfoms. Dari panitia sendiri menyanyikan sebuah lagu, aku dan Hendra memainkan
gitar. Hendra sebagai bass. Saat semua sudah pulang, kulihat Hendra minta maaf
pada Dinda, dan kelihatannya selama MOS ini, Hendra memang sudah mengincar
Dinda. Melihat mereka akrab begitu entah mengapa aku merasa sakit hati, dan aku
putuskan untuk pergi ke belakang sekolah.
Menyendiri dan mencoba mencari tau apa yang terjadi padaku.
Ku tuliskan sebuah puisi yang kutujukan padanya.. berisi
ungkapan perasaan, di sebuah tembok tua yang rapuh. Mungkin Cuma lewat inilah aku bisa mengungkapkan
padanya. Walaupun tak akan terbalas,
setidaknya aku sudah lega.
Keesokan harinya, saat istirahat aku berjalan dikoridor
sekolah, dengan pikiran yang kosong, dan hati yang hampa. Tiba-tiba terdengar
suara lembut yang membangunkanku dari lamunan.
“Kakak!” kata Dinda, sambil menepuk bahuku dan berjalan
disampingku..
“OH, kamu? Ada apa?” kataku sedikit tersenyum.
“Kak, temeni ke kantin yuk, makan,, aku laper nich!” katanya dengan
manja.
“Ah, kamu.. asal aku di teraktir!” jawabku sambil menyenggol
lengannya.
“OK, deh.. ayuk!!” katanya lalu menggandengku dan berjalan ke
kantin.
Langkahnya semakin cepat, mungkin ia sangat lapar, aku merasa senang
namun tetap merasa bersalah.
Makan siang kali ini amatlah menyenangkan, dengan
sahabatku. Memesan makanan favorid kami,
yaitu bakso dan segelas ES Teh.. kami ngobrol dan bercanda.
“Dan tak ada airmata yang tersisa semua sirna, semoga kau diNERaKa
bersamanya”
Sepotong lirik lagu yang sering kami nyanyikan bersama
dengan botol minum seakan jadi MIX. Dan
kami tertawa riang, sangat riang sampai teman2 melihat pada kami. Aku memandang
wajahnya yang manis saat ia tertawa.
Sambil menghela nafas lalu aku taruh bakso goreng ke mangkuknya, karena
aku tidak suka. Saat kami sedang asyik
mengobrol dan makan. Hendra datang, ku kira dia
akan mengacaukan semuanya, tapi ternyata Dinda acuh padanya, dan menolak
tawarannya untuk pulang bersama. Itu
cukup membuat senang, dan sedikit lega.
oOo
“Tempat ini selalu sepi, dan menyenangkan!” kataku sambil menghela
nafas meraba tembok tua yang menemaniku.
Aku sedikit kaget, ternyata ada yang menjawab
puisiku. Aku balas puisi itu lagi. Entah
mengapa hatiku senang dan ada inisial namanya, aku sangat yakin itu dia, aku
tak menyangka, tapi aku hafal tulisan dan tanda baca yang sering dia gunakan.
Bel masuk berbunyi. Aku kembali ke kelas. Saat aku lewat kelas 3A ada yang
memanggilku. Ternyata Hendra.
“Bisa ngomong sebentar?” katanya.
“Omong aja silakan!” jawabku dengan nada dingin.
“Ini tentang Dinda, kamu kan deket ni sama dia, bisa Bantu aku
donk!?” kata berlahan sambil merangkulku.
Rupanya Hendra memintaku untuk menanyakan perasaan Dinda
pada Hendra, dan agar aku membantunya
jadian. Oh. Tentu tak mungkin kulakukan karena aku
menyukai Dinda.
Pertemuan berikutnya dengan Hendra, dia selalu menanyakan masalah
itu. Tentu saja aku hanya berkata ya, namun
tak sungguh-sungguh kulakukan.
oOo
Dua tahun sudah kulalui hari-hari ku disekolah ini. Dan sudah semakin banyak pula puisi-puisi dan
pesan-pesan yang tergores di tembok tua.
Kelas 3 adalah waktu yang sangatlah singkat. Aku takut meninggalkan
semua kenangan dan kisah-kisah ku disini. Meskipun hanya lewat tembok bisu itu,
kisah cintaku ini tak ingin berakhir begitu saja.
Seperti biasa aku selalu duduk di situ, tak ku sangka
Dinda datang, dan sedikit heran dan curiga mengapa aku ada disini.
“Lho. Kak? Kenapa disini?” kata Dinda lalu duduk di sampingku.
“Oh, gak pa2, iseng aja, lagian disini satu-satunya tempat sejuk.
Kenapa kuk wajah mu ditekuk gitu?” tanyaku sambil memandangi wajah Dinda yang
murung.
“Itu!!” kata Dinda sambil menunjuk ke arah tembok.
DEG.. jantungku jadi berdetak lebih cepat…. Namun ku hanya diam dan membiarkan ia meneruskan ceritanya.
“Udah sebulan gak ada respon lagi, huft…. L/ aku pengen tau siapa yang
nulis itu untukku… aku belum sempat Tanya namanya.., aku pengen ketemu dia,
kak!!!!” katanya dengan nada yang semakin menurun, ia tertunduk dan terlihat
air matanya menetes.
Apa dia begitu berharap padaku, apa sedalam itu perasaannya padaku,
ah tidak,, bukan aku, seandainya saja dia tau, mungkin dia akan berbalik
membenci ku,,
“KAK!!! Malah diem aja, tau gak siapa yang sering kesini?” tanyanya
“Gak tau aku, aku baru kesini hari ini, ,…. udah2 jangan nangis,
nanti kita cari bersama!” kataku sambil merangkulnya.
“OH, ya.. kak, kelas 3 ada yang inisialnya SJ gak? Dia selalu
meninggalkan tulisan itu kalo mengakhir pesan atau puisinya.?!!” Suaranya agak
bersemangat, dan dia usap bibinya yang basah itu.
“Kelas 3? Mmmm,,, ada,, !” kataku sambil memegang janggut..
“Oh, siapa kak? Aku dah nyari dikelas 2 gak ada, lulusan kemarin
juga gak ada.. jadi tinggal kelas 3 sekarang aja kak..!”
Apakah sampai segitunya kau ingin mencari ku, ,,,
“Ada, kelas 3F, namanya Satrio JOko..yang menang KIR dulu itu
lho..!” kataku menyakinkan.
“Haaaa…. !!” katanya lalu berdiri.
Aku menahan tawaku, tapi akhirnya keluar juga..
“Ih,, nyebelin.. gak mungkin kak,, aku gak mau.. dia kan jelek!!!”
katanya dengan manja dan cemberut.
“HAHAHHAHAHAH.. “ tawaku semakin keras melihatnya seperti itu..
Aku memang belum menjawab pesannya, yang meminta
identitasku serta ingin menemuiku..
Andai kau tau, aku hanya sebuah sandal jepit yang butut. Tak mungkin bersamamu dan tak mungkin kau
akan menyukaiku setelah kau tau siapa aku. Maaf cukuplah seperti ini. ‘SJ,
Sebutut apapun sandal yang kupakai sekarang, aku tidak peduli,
karena kaulah yang melindungi kakiku dari apapun, bahkan dari kotoran, siapa
yang tidak akan berterimakasih padamu.
Kumohon, aku sangat menyukaimu, lebih dari siapapun juga.. from: Dinda’
Hari berikutnya kubalas lagi pesan darinya.. aku
berjanji pada diriku, bahwa itu adalah pesan terakhir yang akan ku gores pada
tembok yang masih setia denganku, dan mungkin hanya tembok itulah yang bisa
mengerti.
Air mata ini akhirnya jatuh juga,
entah dari kedipan matamu atau dari mataku sendiri
tak selayaknya sandal jepit
ini jatuh cinta
seberapa dalam kasih ini, tetap tak akan mengubah sandal jadi
merpati
seputih apapun cinta dalam hatiku,
tak akan mengubah sandal butut jadi sepatu kaca sinderala
cukuplah tembok tua ini menjadi saksi kisah cinta kita
dan mungkin hanya lewat tembok ini, cinta kita bisa terwujud……
sandal jepit’
Seperti ada yang mengawasiku dari balik tembok, aku
berlari dan tak ku temukan siapapun. Dan
mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku pulang cepat, karena esok Ujian yang ku
nanti selama ini, Ujian Nasional.
oOo
Dinda meraba tembok, membaca perlahan pesanku,,,
“Kakak, ?? apa kau sandal jepit itu?” katanya sambil menangis
tersedu, dan dia hanya menyandarkan badannya ke tembok tanpa melakukan
apapun. Rupanya badannya jadi lemas dan
sangat sakit hatinya.
oOo
Seusai ujian murid-murid kelas 1 dan 2 kembali ke
sekolah. Entah mengapa Dinda bersikap
berbeda padaku. Dia terus menghindar, menjauhiku. Mungkin dia sudah tau. Selama ini, inilah yang sangat
kutakutkan. Kehilangan dia sebagai
sahabatku. Dan selama aku menanti
pengumuman, aku terus berusaha bicara padanya, namun ia selalu menghindar.
Haruskah berakhir seperti ini, aku tak ingin akhir seperti ini. Aku tak mau
kehilangan sahabatku hanya gara-gara cinta ini. Yang kuharap hanyalah bisa
dekat dan jadi sahabatnya, meskipun rasa ini sangat mendalam, cukuplah sahabat,
aku sudah bahagia. Memang selalu begini
akhir sebuah sandal jepit.
oOo
Dinda berbaring di kasurnya. Beberapa hati ini dia sakit. Ia terus saja melamun dan berpikir.
“Untuk apa kau lakukan ini,?
Kakak??!!” kata dinda lalu menutup
wajahnya dengan bantal.
Ingat saat itu, hujan turun sangat deras, dan tak ada
teman sekelasku yang mau membantu atau sekedar menemaniku sampai datang
jemputanku. Namun kakak rela menungguiku
bahkan sampai petang tak kunjung datang jemputan itu, dan akhirnya kakak
mengantarku walau rumahku sangat jauh dan berlawanan arah dengan rumahnya.
Dan saat aku terlambat pelajaran guru paling galak dan
yang terlambat tidak boleh mengikuti pelajaran sedangkan hari itu ada
ulangan. Lagi – lagi kakak itu yang mau
membantuku, dengan berpura-pura ada keperluan penting dan membuat guruku keluar
ruang dan akhirnya kau bisa masuk ke kelas tanpa ketawan. Hanya kakak itu yang bisa melakukannya hanya
untukku.
“YA!! Hanya dia…!!” kata Dinda mengangguk.
Ia melihat bangun dan melihat ke cermin.
“Apa yang bisa kulakukan untukmu? Kakak?” katanya dengan dana pelan.
oOo
Keinginan ku berfoto bersama Dinda saat perpisahan nanti
mungkin kedengarannya sangat tidak mungkin.
Apa salahku kenapa harus aku yang mengalami semua ini. Sungguh sangat tidak adil.
“Mendung, seperti hatiku.” Kataku tersenyum dan menatap ke langit.
Aku berpapasan dengan Dinda, ingin ku katakan
namun mulutku bungkam karena melihat ia membuang muka. Seperti geledak dan petir yang menyambar itu
ada dalam dadaku. Merusak sistemnya dan
membuat hatiku sakit. Kerja jantungku jadi melemah rasanya. Paru-paruku rasanya tak bisa kembang kempis. Sangat aneh rasanya, berpapasan dengan teman
lain. Senyum inipun sampai tak mampu ku beri. Apa karena itu.? Ku pandangi dia
yang terus menjauh dariku. Air mataku
jatuh lagi, lalu ku usap sendiri dengan tanganku, dan aku berlari
mengerjarnya. “Din, tunggu! Biarkan aku
bicara, setelah itu kau boleh putuskan, mau pergi dari ku atau tidak!”
Dia hanya diam namun ia tidak melanjutkan langkahnya. Hujan turun
sangat deras, Ia masih berdiri disana dengan wajah tertunduk.
“Aku minta maaf Din, karena aku tidak mengatakannya sejak awal, Mav
jika hatimu sakit dan merasa dikhianati.
Tapi, inilah kenyataan yang harus ku telan, seperti menelan empedu yang
sudah pecah dimulut. Aku menyukaimu
lebih dari aku menyukai diriku sendiri.
Dan wajar jika kau menjauhiku.
Selama ini, aku hanya berharap bisa dekat dengan mu. Dan di sisi lain aku tidak bisa membohongi
diriku, kalau aku…!” kataku terbata-bata namun di sela olehnya.
“CUKUP!” katanya lalu pergi tanpa menoleh sedikitpun padaku.
aku tau!!!
Dan aku Cuma bisa menangis, aku beruntung, hujan yang menghapus air
mataku. Setidaknya, aku tak perlu
mengusap pipiku yang basah ini sendiri.
Sejak awal aku sudah rapuh, dan sekarang benar – benar hancur. Mungkin kisah ini sudah berakhir. Ya, memang sesuatu yang salah itu tidak
mungkin jadi benar. Tuhan memberi aturan
agar kita baik, aku tak pernah coba untuk melanggarnya. Aku hanya menerima dan menjalaninya, karena
aku belum mampu melawan dan menjadikannya kawan.
Kata cinta itu sederhana, namun bagiku itu rumit dan
menyakitkan. Segalanya jadi rumit kalau
itu tak sejalan dengan pandangan kebanyakan orang. Aku tau Tuhan tidak memandang berdasarkan
banyak atau tidaknya yang sejalan, tapi Dia yang lebih tau dari siapapun di
dunia ini. Siapa yang tau perasaan
sandal yang kau injak dan yang kau tinggalkan di luar rumah. Bagi kebanyakan
orang ia hanya benda mati yang mencoba melindungi kakimu, bagian paling bawah
tubuhmu. Ia begitu setia dan mencintai
tanpa mengharap balasan, cinta yang benar mungkin itu, yang tidak pernah pamrih
tidak pernah menyesal meski hatinya sangat sakit. Saat ia sendiri maka ia hanya menangis, tak
perlu tangan orang lain cukup tangannya sendiri yang mengusap, itu lebih dari
cukup untuknya.
oOo
Hari itu tiba, semua bersorak-sorak riang, meski berat
tapi kucoba tersenyum pada teman-teman yang menyayangiku. Banjir pelukan, sedikit menutup lukaku. Di tengah keriangan itu, aku merasa sedih, seperti ada yang hilang. Asaku terbang, menembus dinding – dinding
beku itu. Tiba-tiba ada rentakan kaki
mendekat, semakin cepat dan semakin dekat, seperti menarik asaku kembali ke
tempatnya duduk. Dinda memelukku! Air
mata jatuh lagi dari kedipan panjangku. Namun dadaku tak sesak lagi. J /
“Kak, tetaplah jadi kakakku! Dan jangan buatku merasa bersalah padamu!” katanya.
Aku tau, lukamu lebih sakit dari pada lukaku, dan semoga luka kita
akan sembuh seiring berjalannya waktu tanpa ada benci yang tinggal disana, kak!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar