Kamis, 19 April 2012

CINTA SEBUAH SANDAL JEPIT



Masa Orientasi Siswa tiba, siswa baru mengikuti itu mulai hari ini.  Aku sebagai ketua Osis yang mengatur jalannya MOS itu selama 1 minggu.  Seperti MOS pada umumnya, selalu identik dengan kekerasaan dan pelakuaan tidak adil dari Kakak kelas. Sudah  Pukul 7.00 dan hari ini pertama MOS dimulai. Semua panitia dan peserta didik baru sudah masuk, namun aku masih di depan gerbang menunggu barang kali ada yang terlambat.
Seorang gadis lari terenggah-enggah menghampiriku.
“Maaf, Kak! Saya terlambat!” katanya sambil tertunduk, mungkin dia tau kalo aku panitia MOS karena aku memakai Jas Almamater.
Ku pandangi dia, sangat manis dan cantik, lembut dan anggun. Aku hanya tersenyum didalam hatiku.

“HEY, kamu! Kenapa masih di situ, sana masuk dan masuk ke barisan!” teriak Hendra sambil menghampiri kami.
“Oh, iya kak, maaf” jawabnya sambil lari menuju lapangan.
Aku tak berkata apapun, hanya tersenyum pada Hendra dan masuk juga.  Hendra adalah wakilku. Ia yang mendominasi kepanitiaan. Aku hanya sekedar membantu meski status ku sebagai ketua.
Saat makan siang, entah mengapa ada saja yang dihukum setiap harinya.  Ternyata itu adalah Dinda, dia salah membawa makanan untuk hari ini.  Hendra memaki dan memarahinya.  Aku yang tak tega melihatnya lalu mendekat.

“Cukup, Ndra! Kamu lebih dibutuhkan disana, biar aku urus yang ini.” Kataku tanpa Expresi.
“Okelah, kalau begitu!” kata Hendra dan pergi dari tempat itu.
Kupandangi saja wajahnya.  Ia hanya tertunduk tanpa kata.

“Minta hukuman apa, Din Da?” kataku sambil mengeja kartu pengenal yang menempel di bajunya.
“Maaf, Kak,, dihukum apa saja, mau.” Kata Dinda dengan sedikit menangis.
Bahkan saat menangis, ia masih saja cantik. Karena  tak tega aku menyuruhnya duduk saja. Dan dia mengusap air matanya sambil keheranan. Dengan sedikit senyum dan kedipan mataku. Dia pun kembali ke tempat duduknya. 
oOo
Hari terakhir MOS, ditutup dengan Pensi kecil.  Setiap kelas mengirimkan wakilnya untuk perfoms. Dari panitia sendiri menyanyikan sebuah lagu, aku dan Hendra memainkan gitar. Hendra sebagai bass. Saat semua sudah pulang, kulihat Hendra minta maaf pada Dinda, dan kelihatannya selama MOS ini, Hendra memang sudah mengincar Dinda. Melihat mereka akrab begitu entah mengapa aku merasa sakit hati, dan aku putuskan untuk pergi ke belakang sekolah.  Menyendiri dan mencoba mencari tau apa yang terjadi padaku.
Ku tuliskan sebuah puisi yang kutujukan padanya.. berisi ungkapan perasaan, di sebuah tembok tua yang rapuh.  Mungkin Cuma lewat inilah aku bisa mengungkapkan padanya.  Walaupun tak akan terbalas, setidaknya aku sudah lega.
Keesokan harinya, saat istirahat aku berjalan dikoridor sekolah, dengan pikiran yang kosong, dan hati yang hampa. Tiba-tiba terdengar suara lembut yang membangunkanku dari lamunan.

“Kakak!” kata Dinda, sambil menepuk bahuku dan berjalan disampingku..
“OH, kamu? Ada apa?” kataku sedikit tersenyum.
“Kak, temeni ke kantin yuk, makan,, aku laper nich!” katanya dengan manja.
“Ah, kamu.. asal aku di teraktir!” jawabku sambil menyenggol lengannya.
“OK, deh.. ayuk!!” katanya lalu menggandengku dan berjalan ke kantin.
Langkahnya semakin cepat, mungkin ia sangat lapar, aku merasa senang namun tetap merasa bersalah.
Makan siang kali ini amatlah menyenangkan, dengan sahabatku.  Memesan makanan favorid kami, yaitu bakso dan segelas ES Teh.. kami ngobrol dan bercanda.

“Dan tak ada airmata yang tersisa semua sirna, semoga kau diNERaKa bersamanya”
Sepotong lirik lagu yang sering kami nyanyikan bersama dengan botol minum seakan jadi MIX.  Dan kami tertawa riang, sangat riang sampai teman2 melihat pada kami. Aku memandang wajahnya yang manis saat ia tertawa.  Sambil menghela nafas lalu aku taruh bakso goreng ke mangkuknya, karena aku tidak suka.  Saat kami sedang asyik mengobrol dan makan. Hendra datang, ku kira dia  akan mengacaukan semuanya, tapi ternyata Dinda acuh padanya, dan menolak tawarannya untuk pulang bersama.  Itu cukup membuat senang, dan sedikit lega.
oOo
“Tempat ini selalu sepi, dan menyenangkan!” kataku sambil menghela nafas meraba tembok tua yang menemaniku.
Aku sedikit kaget, ternyata ada yang menjawab puisiku.  Aku balas puisi itu lagi. Entah mengapa hatiku senang dan ada inisial namanya, aku sangat yakin itu dia, aku tak menyangka, tapi aku hafal tulisan dan tanda baca yang sering dia gunakan.
Bel masuk berbunyi. Aku kembali ke kelas.  Saat aku lewat kelas 3A ada yang memanggilku.  Ternyata Hendra.
“Bisa ngomong sebentar?” katanya.
“Omong aja silakan!” jawabku dengan nada dingin.
“Ini tentang Dinda, kamu kan deket ni sama dia, bisa Bantu aku donk!?” kata berlahan sambil merangkulku.
Rupanya Hendra memintaku untuk menanyakan perasaan Dinda pada Hendra, dan agar  aku membantunya jadian.  Oh.  Tentu tak mungkin kulakukan karena aku menyukai Dinda.
Pertemuan berikutnya dengan Hendra, dia selalu menanyakan masalah itu.  Tentu saja aku hanya berkata ya, namun tak sungguh-sungguh kulakukan.
oOo

Dua tahun sudah kulalui hari-hari ku disekolah ini.  Dan sudah semakin banyak pula puisi-puisi dan pesan-pesan yang tergores di tembok tua.  Kelas 3 adalah waktu yang sangatlah singkat. Aku takut meninggalkan semua kenangan dan kisah-kisah ku disini. Meskipun hanya lewat tembok bisu itu, kisah cintaku ini tak ingin berakhir begitu saja.
Seperti biasa aku selalu duduk di situ, tak ku sangka Dinda datang, dan sedikit heran dan curiga mengapa aku ada disini.

“Lho. Kak? Kenapa disini?” kata Dinda lalu duduk di sampingku.
“Oh, gak pa2, iseng aja, lagian disini satu-satunya tempat sejuk. Kenapa kuk wajah mu ditekuk gitu?” tanyaku sambil memandangi wajah Dinda yang murung.
“Itu!!” kata Dinda sambil menunjuk ke arah tembok.
DEG.. jantungku jadi berdetak lebih cepat…. Namun ku hanya diam dan membiarkan ia meneruskan ceritanya.
“Udah sebulan gak ada respon lagi, huft…. L/  aku pengen tau siapa yang nulis itu untukku… aku belum sempat Tanya namanya.., aku pengen ketemu dia, kak!!!!” katanya dengan nada yang semakin menurun, ia tertunduk dan terlihat air matanya menetes.

Apa dia begitu berharap padaku, apa sedalam itu perasaannya padaku, ah tidak,, bukan aku, seandainya saja dia tau, mungkin dia akan berbalik membenci ku,,

“KAK!!! Malah diem aja, tau gak siapa yang sering kesini?” tanyanya
“Gak tau aku, aku baru kesini hari ini, ,…. udah2 jangan nangis, nanti kita cari bersama!” kataku sambil merangkulnya. 
“OH, ya.. kak, kelas 3 ada yang inisialnya SJ gak? Dia selalu meninggalkan tulisan itu kalo mengakhir pesan atau puisinya.?!!” Suaranya agak bersemangat, dan dia usap bibinya yang basah itu.
“Kelas 3? Mmmm,,, ada,, !” kataku sambil memegang janggut..
“Oh, siapa kak? Aku dah nyari dikelas 2 gak ada, lulusan kemarin juga gak ada.. jadi tinggal kelas 3 sekarang aja kak..!”
Apakah sampai segitunya kau ingin mencari ku, ,,,
“Ada, kelas 3F, namanya Satrio JOko..yang menang KIR dulu itu lho..!” kataku menyakinkan.
“Haaaa…. !!” katanya lalu berdiri.
Aku menahan tawaku, tapi akhirnya keluar juga..
“Ih,, nyebelin.. gak mungkin kak,, aku gak mau.. dia kan jelek!!!” katanya dengan manja dan cemberut.
“HAHAHHAHAHAH.. “ tawaku semakin keras melihatnya seperti itu..
Aku memang belum menjawab pesannya, yang meminta identitasku serta ingin menemuiku..











Andai kau tau, aku hanya sebuah sandal jepit yang butut.  Tak mungkin bersamamu dan tak mungkin kau akan menyukaiku setelah kau tau siapa aku. Maaf cukuplah seperti ini. ‘SJ,





Sebutut apapun sandal yang kupakai sekarang, aku tidak peduli, karena kaulah yang melindungi kakiku dari apapun, bahkan dari kotoran, siapa yang tidak akan berterimakasih padamu.  Kumohon, aku sangat menyukaimu, lebih dari siapapun juga.. from: Dinda’



Hari berikutnya kubalas lagi pesan darinya.. aku berjanji pada diriku, bahwa itu adalah pesan terakhir yang akan ku gores pada tembok yang masih setia denganku, dan mungkin hanya tembok itulah yang bisa mengerti.
Air mata ini akhirnya jatuh juga,
entah dari kedipan matamu atau dari mataku sendiri
tak selayaknya  sandal jepit ini jatuh cinta
seberapa dalam kasih ini, tetap tak akan mengubah sandal jadi merpati
seputih apapun cinta dalam hatiku,
tak akan mengubah sandal butut jadi sepatu kaca sinderala
cukuplah tembok tua ini menjadi saksi kisah cinta kita
dan mungkin hanya lewat tembok ini, cinta kita bisa terwujud……
sandal jepit’
Seperti ada yang mengawasiku dari balik tembok, aku berlari dan tak ku temukan siapapun.  Dan mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku pulang cepat, karena esok Ujian yang ku nanti selama ini, Ujian Nasional.
oOo
Dinda meraba tembok, membaca perlahan pesanku,,,

“Kakak, ?? apa kau sandal jepit itu?” katanya sambil menangis tersedu, dan dia hanya menyandarkan badannya ke tembok tanpa melakukan apapun.  Rupanya badannya jadi lemas dan sangat sakit hatinya.
oOo

Seusai ujian murid-murid kelas 1 dan 2 kembali ke sekolah.  Entah mengapa Dinda bersikap berbeda padaku. Dia terus menghindar, menjauhiku.  Mungkin dia sudah tau.  Selama ini, inilah yang sangat kutakutkan.  Kehilangan dia sebagai sahabatku.  Dan selama aku menanti pengumuman, aku terus berusaha bicara padanya, namun ia selalu menghindar. Haruskah berakhir seperti ini, aku tak ingin akhir seperti ini. Aku tak mau kehilangan sahabatku hanya gara-gara cinta ini. Yang kuharap hanyalah bisa dekat dan jadi sahabatnya, meskipun rasa ini sangat mendalam, cukuplah sahabat, aku sudah bahagia.  Memang selalu begini akhir sebuah sandal jepit.

oOo

Dinda berbaring di kasurnya.   Beberapa hati ini dia sakit.  Ia terus saja melamun dan berpikir.

 “Untuk apa kau lakukan ini,? Kakak??!!”  kata dinda lalu menutup wajahnya dengan bantal.
Ingat saat itu, hujan turun sangat deras, dan tak ada teman sekelasku yang mau membantu atau sekedar menemaniku sampai datang jemputanku.  Namun kakak rela menungguiku bahkan sampai petang tak kunjung datang jemputan itu, dan akhirnya kakak mengantarku walau rumahku sangat jauh dan berlawanan arah dengan rumahnya.
Dan saat aku terlambat pelajaran guru paling galak dan yang terlambat tidak boleh mengikuti pelajaran sedangkan hari itu ada ulangan.  Lagi – lagi kakak itu yang mau membantuku, dengan berpura-pura ada keperluan penting dan membuat guruku keluar ruang dan akhirnya kau bisa masuk ke kelas tanpa ketawan.  Hanya kakak itu yang bisa melakukannya hanya untukku.

“YA!! Hanya dia…!!” kata Dinda mengangguk.
Ia melihat bangun dan melihat ke cermin.
“Apa yang bisa kulakukan untukmu? Kakak?” katanya dengan dana pelan.

oOo

Keinginan ku berfoto bersama Dinda saat perpisahan nanti mungkin kedengarannya sangat tidak mungkin.  Apa salahku kenapa harus aku yang mengalami semua ini.  Sungguh sangat tidak adil.

“Mendung, seperti hatiku.” Kataku tersenyum dan menatap ke langit.
Aku berpapasan dengan Dinda, ingin ku katakan namun mulutku bungkam karena melihat ia membuang muka.  Seperti geledak dan petir yang menyambar itu ada dalam dadaku.  Merusak sistemnya dan membuat hatiku sakit. Kerja jantungku jadi melemah rasanya. Paru-paruku  rasanya tak bisa kembang kempis.  Sangat aneh rasanya, berpapasan dengan teman lain. Senyum inipun sampai tak mampu ku beri. Apa karena itu.? Ku pandangi dia yang terus menjauh dariku.  Air mataku jatuh lagi, lalu ku usap sendiri dengan tanganku, dan aku berlari mengerjarnya.  “Din, tunggu! Biarkan aku bicara, setelah itu kau boleh putuskan, mau pergi dari ku atau tidak!”
Dia hanya diam namun ia tidak melanjutkan langkahnya. Hujan turun sangat deras, Ia masih berdiri disana dengan wajah tertunduk.

“Aku minta maaf Din, karena aku tidak mengatakannya sejak awal, Mav jika hatimu sakit dan merasa dikhianati.  Tapi, inilah kenyataan yang harus ku telan, seperti menelan empedu yang sudah pecah dimulut.  Aku menyukaimu lebih dari aku menyukai diriku sendiri.  Dan wajar jika kau menjauhiku.  Selama ini, aku hanya berharap bisa dekat dengan mu.  Dan di sisi lain aku tidak bisa membohongi diriku, kalau aku…!” kataku terbata-bata namun di sela olehnya.

“CUKUP!” katanya lalu pergi tanpa menoleh sedikitpun padaku. 
aku tau!!!
Dan aku Cuma bisa menangis,  aku beruntung, hujan yang menghapus air mataku.  Setidaknya, aku tak perlu mengusap pipiku yang basah ini sendiri.  Sejak awal aku sudah rapuh, dan sekarang benar – benar hancur.  Mungkin kisah ini sudah berakhir.   Ya, memang sesuatu yang salah itu tidak mungkin jadi benar.  Tuhan memberi aturan agar kita baik, aku tak pernah coba untuk melanggarnya.  Aku hanya menerima dan menjalaninya, karena aku belum mampu melawan dan menjadikannya kawan. 
Kata cinta itu sederhana, namun bagiku itu rumit dan menyakitkan.  Segalanya jadi rumit kalau itu tak sejalan dengan pandangan kebanyakan orang.  Aku tau Tuhan tidak memandang berdasarkan banyak atau tidaknya yang sejalan, tapi Dia yang lebih tau dari siapapun di dunia ini.  Siapa yang tau perasaan sandal yang kau injak dan yang kau tinggalkan di luar rumah. Bagi kebanyakan orang ia hanya benda mati yang mencoba melindungi kakimu, bagian paling bawah tubuhmu.  Ia begitu setia dan mencintai tanpa mengharap balasan, cinta yang benar mungkin itu, yang tidak pernah pamrih tidak pernah menyesal meski hatinya sangat sakit.  Saat ia sendiri maka ia hanya menangis, tak perlu tangan orang lain cukup tangannya sendiri yang mengusap, itu lebih dari cukup untuknya.
oOo

Hari itu tiba, semua bersorak-sorak riang, meski berat tapi kucoba tersenyum pada teman-teman yang menyayangiku.  Banjir pelukan, sedikit menutup lukaku.  Di tengah keriangan itu, aku  merasa sedih, seperti ada yang hilang.  Asaku terbang, menembus dinding – dinding beku itu.  Tiba-tiba ada rentakan kaki mendekat, semakin cepat dan semakin dekat, seperti menarik asaku kembali ke tempatnya duduk.  Dinda memelukku! Air mata jatuh lagi dari kedipan panjangku. Namun dadaku tak sesak lagi. J /

“Kak, tetaplah jadi kakakku! Dan jangan  buatku merasa bersalah padamu!” katanya.

Aku tau, lukamu lebih sakit dari pada lukaku, dan semoga luka kita akan sembuh seiring berjalannya waktu tanpa ada benci yang tinggal disana, kak!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar