Walau tak seberharga sebuah intan, atau emas berlian. Namun aku bahagia, karena ada kau disisiku. Yang selalu menjadi teman disaat aku merasa
sendiri dan sedih, tak hanya disaatku sedang bahagia saja. Kisah ini adalah saat aku merasa ada sahabat
didunia ini, dan tak perlu takut menghadapi dunia walau mataku tak dapat
melihat.
“kalau saja kau mendengarkan
ibu, untuk tidak pergi hari itu, tentu kecelakan itu tidak akan terjadi!” kata
ibu, sambil membanti baju-baju ke
tempat tidur Fira.
“Ibu, sudahlah, itu Cuma membuatku sedih!” kata Fira dan masuk
keselimut.
Ibu Fira sangat kecewa pada musibah yang dialami putrinya, ia
menjadi uring-uringan, dan berkeluh kesah.
Berbeda dengan Fira, kecelakaan yang membuat ia kehilangan
penglihatannya ,ia jadikan sebagai takdir yang harus diterima dengan
ikhlas. Sejak itu ia tidak sekolah lagi,
dia ingin ke sekolah untuk anak berkebutahan khusus, tapi ibunya tidak
mengijikan karena itu dianggap sebagai aib keluarga. Dari kecil Fira menjadi kebanggaan ibunya,
setelah kakak laki-lakinya Dewa menjadi seorang angkatan Udara. Ibu menginginkan Dewa menjadi penerus
perusahaan yang dibangun oleh Almarhum ayahnya.
Harapannya satu-satunya juga tidak mungkin lagi karena Fira buta. Segala upaya sudah di tempuh, mencari donor
mata, dan pengobatan keluar negeri pun juga sudah dilakukan tapi belum juga ada
donor mata dan keadaan yang membaik untuk Fira.
Seorang adik Fira, ia seorang anak laki-laki yang tampan, namun, ia
cacat mental, karena sering diberi obat-obat oleh ibunya waktu balita, ia malah
menjadi lemah otak dan sangat lamban.
Ibu mereka merasa neraka menghampiri mereka ketika ayah meninggal dunia
5 tahun yang lalu.
“Ka.. ka… ma ….em.. duluuu
ya?” kata wisnu adik tercinta Fira.
“iya, dek! Kamu udah makan belum? Tanya Fira sambil memegang tangan
Wisnu.
“u…dah..!” kata Wisnu sambil tertunduk dan memandang kearah ibunya
yang menyuapi Dewa yang baru pulang hari ini.
Wisnu hanya memandangi kakaknya dan ibunya yang sedang duduk di meja makan sambil bersenda gurau.
Tangan Fira basah, seperti ada yang menetes dari atas.
“Wisnu, kamu gak papa? Tangan kakak kuq basah, kamu nangis lagi ya?”
kata Fira lalu meraba wajah adiknya.
“enggak og kak, adek gak nangis!” jawab Wisnu sambil terbata-bata
dan mengusap pipinya yang basah.
“kakak, nggak papa kuq, walaupun kakak gak bisa liat lagi, tapi kan
ada kamu yang bisa jadi mata kakak, , atau….. kamu melihat sesuatu yang membuat
mu menangis ya?” kata Fira agak pelan.
“nggak kuq kak!” kata Wisnu.
Wisnu pergi meninggalkan Fira yang duduk dikursi. Wisnu dianggap tidak berguna oleh ibunya,
karena ia sangat lemah, ketika masih bayi sering sakit-sakitan. Ibunya memperlakukan Wisnu berbeda dari
anak-anak nya yang lain. Walaupun dia
lemah otak, tapi hatinya sangatlah peka dengan keadaan itu. Fira sering melihatnya menyendiri dikamar dan
menangis. Fira sering menghiburnya dulu,
tapi dengan kondisinya yang sekarang ia jadi tidak bisa berbuat apa-apa.
Waktu sarapan tiba, bi rahmi menyiapkan makan dan mengantar Fira
duduk ditempat duduknya serta membantu wisnu makan. Saat wisnu ingin makan kornet kesukaan ia
tidak sengaja menumpahkan susu ke celana kakak laki-lakinya Dewa. Lalu dengan cepat ibunya langsung mengambil
tisu dan mengelap basahan ditangan Dewa dan dicelananya.
“Kamu gimana sih Wis, kakak mu dah rapi gini, malah ditumpahi susu!”
kata ibu sambil membentak Wisnu yang jadi takut dan menggigit tangan.
“Udah, bu.. gak papa kuq, Cuma basah aja, nanti bisa ganti!” kata
Dewa pada ibunya
“Ya udah sayang, kamu ganti aja, , bi,, tolong disiapin bajunya
Dewa!” kata ibu.
“tapi bu, saya sedang …” kata bibi, yang sedang menyuapi Wisnu yang
agak susah makan, tapi di potong ibu.
“Udah, di tinggal aja itu, Wisnu udah gedhe bisa makan sendiri.”
Kata ibu agak ketus.
Wisnu hanya bisa diam dan tertunduk. Lalu Fira yang ada disebelahnya
menggegam tangan Wisnu.
“Udah, gak pa2, kak Dewa bisa ganti lagi.” Kata Fira bermaksud
menghibur.
Fira walaupun tidak melihat tapi ia tau suasana saat itu, dan ia
sangat mengerti perasaan Wisnu.
“PUNYA ANAK GAK ADA YANG BISA BERBAKTI, YANG SATU LEMOT YANG SATU
BANDEL MALAH JADI BUTA!” kata ibu.
“Ibu, kenapa bilang begitu pada adik-adik?” kata Dewa karena tidak
terima dengan perkataan ibunya.
“Ah, sudahlah, ibu capek sama kalian, ibu berangkat dulu!” kata ibu
lalu pergi.
Dewa terus memandangi ibunya, dan ia menghampiri Fira dan Wisnu dan
merangkul mereka.
“adik-adikku sayang, gak usah didenger omongan ibu tadi, ibu Cuma
lagi banyak kerjaan jadi agak pemarah.” Hibur Dewa.
Dewa pikir Wisnu bisa di bohongin dengan perkataan seperti itu, tapi
Wisnu lebih peka hatinya disbanding siapapun.
Dan aku tau betapa sakitnya perasaan Wisnu selama ini. Walaupun dia tidak tau bagaimana
mengekpresikan persaaannya sesungguhnya, tapi ia sering berkata, bahwa dadanya
sesak dan minta obat asma agar tidak sesak.
Tapi, itu bukan sesak, tapi mungkin rasa sakit hati yang mendalam.
Ibu jadi seperti itu setelah ayah meninggal, ibu menjadi tulang
punggung dan ayah untuk kami. Karena
itu, kami kehilangan seorang ibu yang sesungguhnya. Kalau Wisnu bisa bicara
dengan cepat dan lancar mungkin dia akan bilang kalau ia kehilangan Ayah dan
Ibu sekaligus dari dulu. Bahkan
mungkin ia merasa tidak punya orang tua.
^^^O^^^
Wisnu sedang berdiri di beranda dan memandangi langit sore hari
itu. Fira datang menghampir dan berdiri
disebelahnya.
“Ka.. kak.. di.. de..pan… itu,.. warna… nya… oren.. , ada..
awan..nya juuu.. ga..! Indah… se..ka..li! kata Wisnu.
“Iya, kakak tau, tapi kakak hampir lupa warna awan itu kayak apa?”
kata Fira sambil tersenyum lebar.
“Wisnu, ,, jan,,ji,, nanti.. kak ,, fira,, sama,, wisnu… bisa ….
Liat… langit…. Bersama.. kayk…. Dulu.. lagi..!” kata Wisnu lalu memelukku.
Fira tau, dan sangat ingat pancaran mata adiknya yang sangat tulus
itu, lebih tulus dari siapapun.
Lalu Fira dengan bi Rahmi ke
kamar untuk membantu Fira mandi. Wisnu
turun, dan melihat ibunya tertidur di sofa, ia pandangi ibunya yang sangat
lelah itu. Ia duduk di dibawah dan ia
pijat kaki ibunya berlahan-lahan. Dan
saat ibunya terbangun, ia langsung beranjak dan berlari menuju kamarnya.
Ibu memandang Wisnu yang lari dan merasa sangat bersalah!
Bagaimanapun juga ia seorang ibu, pasti juga punya kasih sayang pada
anak-anaknya. Dia berencana mengajak
Dewa, Fira , dan Wisnu berlibur akhir pekan ini. Namun, malam harinya ia bermimpi, ia bertemu
dengan seorang anak remaja yang tampan, sangat tampan wajahnya putih bersih,
mancung, bibirnya merah, mirip dengan wisnu, hanya berbeda tatapan matanya,
anak remaja dimimpi itu tatapan matanya tajam namun tetap terpancar ketulusan,
sedang tatapan wisnu adalah tatapan kosong layaknya anak yang lemah otaknya.
Anak itu memeluk ibu dengan sangat erat, seakan ingin pergi dan
tidak kembali,
“Bu, aku mau liburan, nanti aku tinggalkan sesuatu yang membuatku
lebih berguna, kalau itu bisa membuat ibu bangga padaku, aku akan sangat
gembira melakukannya. Ibu, percaya padaku, kalau aku sayang ibu, aku janji,
semua anak ibu akan bisa membanggakan ibu” kata anak remaja itu..
Lalu ibu terbangun, dan keluar keringat dingin, ia jadi teringat
wisnu. Buru-buru ibu menuju kamar wisnu,
ibu buka pintu, dan melihat anaknya tidur pulas. Hatinya sedikit tenang
, tapi merasa tidak nyaman.
Keesokan harinya, saat bibi ingin membangunkan Wisnu, ternyata wisnu
sudah tidak bernafas lagi. Bibi menangis
dan memeluk wisnu erat-erat, dan memanggil ibu dan yang lain. Ibu berteriak hirteris, yang menangis sampai
jatuh pingsan saat jenazah anaknya di kuburkan hari itu juga. Dan hari itu juga Fira mendapatkan donor
mata.
^^^O^^^
Fira memandang langit sore, dia tersenyum,
“Wisnu, kau tepati janjimu, kita melihat langit sore ini bersama
lagi… dan terima kasih sudah membagi keindahaan ini lagi”
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar