Kamis, 19 April 2012

JANGAN BILANG END



Sherly sudah menunggu lebih dari 30 menit,  hari itu hujan deras dan ia sendiri diparkiran itu.  Beberapa menit kemudian Ryza datang dan turun dari sepeda motornya.  “Maafin aku Sherly, tadi bannya bocor!” dengan basah kuyub ia menghampiri Sherly yang sejak jadi menunggu.  “Ehm, nggak papa og? Sini dikeringin dulu baju kamu.” Jawab Sherly dan memberikan sapu tangan pada Ryza.  Ryza pun mengantar Sherly pulang.  Ryza merasakan sesuatu yang tak enak hari ini, sepertinya ia akan kehilangan sesuatu yang berharga untuknya.  Tapi ia tepis saat melihat senyum Sherly lewat spiyonnya. “Mau makan dulu gak?” tanya Ryza saat melewati Warung Steak.  “Ehm, nggak ah, aku pengen langsung pulang aja!” Jawab Sherly.  Sesampainya dirumah sebelum masuk.  “Ryz, ada yang mau aku omongin ke kamu!” Kata Sherly sambil memegang gagang pintu.  “Ya, apa Sher?” Tanya Ryza penasaran.  Sherly hanya menunduk dan terdiam.  “Kamu marah?” tanya Ryza lagi.  “Aku, gak bisa nerusin hubungan kita Ryz!” kata Sherly sambil membalik badannya dan membelakangi Ryza.  Ryza yang mendengar itu, seperti hatinya sudah tersambar petir dan remuk berkeping-keping.  “Sher, kamu marah karena aku telat jemput ya? Iya aku minta maaf, tapi jangan bilang gitu ya?” Jawab Ryza agak gaguk.  “Aku serius, Ryz. Mulai sekarang, kita gak usah ketemu dan kamu gak usah repot-repot jemput aku!” kata Sherly lalu masuk kerumah dan langsung menutup pintu. 
Dibalik pintu itu, Ryza hanya bisa terpaku dan merasakan betapa sakit hatinya.  Dan Ryza langsung pergi mengendarai motornya dengan kecepatan yang bahkan melebihi Romi yang ugal-ugalan kalau naik motor.  Dibalik pintu lain, Sherly terduduk dan menangis tersedu.  Hati dua Insan saling menyayangi kini terluka, dan alam tau itu.  Hujan turun sangat deras, dan angin besar menghembus. Sherly lalu beranjak dan mengusap air matanya. Menuju telepon dan menghubungi Fahmi, ia menanyakan apakah Ryza sudah sampai atau belum.  Sherly terduduk lemas karena ia tau kalau Ryza belum juga sampai.  Ia menyesal mengatakan itu pada Ryza yang tak tau apa-apa.
Sesampainya di Kost Ryza langsung menuju kamar mandi mengganti bajunya dan merebahkan dirinya ketempat tidur.  “Bro, tadi Sherly nelpon!” Kata Fahmi.  “kamu lagi ada masalah sama Sherly?” sahut Ilham.  “Aku diputus!” Jawab Ryza lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.  Teman-temannya kaget, dan ingin minta penjelasan.  “Udah, biarin dia istirahat dulu!” kata Fahmi menepuk bahu Ilham yang sejak tadi terus menarik selimut Ryza.
Pagi ini semua kesiangan, karena Ryza tidak membangunkan mereka.  Fahmi yang selalu berangkat pagi dan tidak peduli pada teman-temannya pun kali ini tidak membangunkan Ryza yang biasanya bangun lebih pagi darinya. Romi dan Sigit langsung bangkit saat mendengar penjual nasi kuning keliling melewati kontrakan mereka.  “shit, jam berapa sekarang! Rom, bangun!” teriak Sigit dan mendorong Romi yang ada disebelahnya, Romi ketiduran saat melihat bola tadi malam.  Mereka lalu buru-buru mandi, dan saat mereka mau berangkat mereka lewat di depan kamar Ryza yang tidak ditutup, mereka sadar pasti sejak semalam kamar ini tidak tutup, lalu mereka masuk, mereka kaget melihat Ryza yang masih tidur.  “Ryz, bangun, kuliah gak, UTS lho!” kata Romi sambil menarik selimut Ryza. Ryza hanya mengeliat dan menarik lagi selimutnya. “Dingin banget!” kata Ryza. “Sakit Ryz?” kata Sigit lalu memegang kepala Ryza.  “Gak tau! Gak enak badanku!”  kata Ryza lesu.  “ku telpon Sherly ya?” kata Romi. Romi ingat kalau kemarin Ryza sudah diputuskan oleh Sherly.  “nich, maksn minum, kita berangkat dulu, bis kuliah ini, ntar kita anter kamu kedokter.” Kata sigit membawakan sarapan yang disiapkan Ilham pagi tadi sebelum ia berangkat.
“Kalau Rudi tau Sherly sama Ryza putus, bisa gawat nich!” Kata Romi, sambil mendorong kursinya kebelakang selirik ke 2 temannya dibelakang, Fahmi dan Ilham. “Kenapa emang?” Sahut Ilham memainkan pulpen dan mencondongkan badan ke depan agar dosen tak melihatnya berbincang-bincang.  “Kita udah bareng-bareng nglakuin hal gila, Cuma buat Sherly coy!” bisik Sigit yang ada disamping Romi.  “Udahlah, ntar aja diomonginnya, kita juga belum tau gimana ceritanya.” Bisik Fahmi.   Dan mereka kembali fokus mengikuti kuliah, beruntung UTS diundur, karena Dosen lupa membawa soal.  Dua hari lalu Rudi pulang kampung karena adiknya sakit.
Dua hari kemudian Rudi pulang, ia membawa oleh-oleh untuk kawannya.  Ia membagikan masing-masing dan juga untuk pacar-pacar temannya juga.  Saat Ryza keluar dari kamarnya Rudi langsung memberikan suatu bungkusan untuknya. “Nich buat kamu sama Sherly!” Kata Rudi dengan senyum cerianya.  “Oh, tq Bro!” Jawab Ryza dan mengambil bungkusan itu.  Fahmi, Romi, Ilham dan Sigit hanya membisa saja.  Ryza duduk disamping Rudi, ia tersenyum saat melihat bungkusan itu.  Lalu ia memeluk sahabatnya itu,  “Rud, aku kehilangan dia!” kata Ryza dengan sedikit meneteskan airmata.  Rudi lalu mendorong Ryza, ia marah “Siapa yang berani ngrebut cewek sahabatku?” katanya.  “Gak ada yang ngrebut, dia mutusin aku!” jawab Ryza tertunduk.  Mereka semua terdiam, Rudi lalu beranjak dan keluar sambil membanting pintu.  Fahmi menyusul Rudi, diikuti Ilham dan Sigit, sedangkan Romi menenangkan Ryza.
Beberapa saat kemudian Rudi datang, ia menghampiri Ryza, “Maafin aku bro, aku Cuma gak rela kalian putus tanpa alasan gini” kata Rudi sambil menepuk Ryza.  Tak lama kemudian, Sillaa masuk terengah-engah, dan langsung menuju ruang TV tempat mereka ber6 tadi berkumpul.  “Ryz, Sherly Ryz!” kata Silla terengah-engah.  Ryza mendengar nama Sherly lalu bangkit, “Sherly napa Sill?” tanya Ryza penuh kecemasan.  “Sherly masuk Rumah Sakit kemarin, sekarang kondisinya gak baik.” Jawab Silla agak layu.  Mereka semua lalu bangkit dan menuju rumah sakit.
Sherly memang punya penyakit, ia Lemah Jantung, karena itulah Ryza begitu memanjakan Sherlya.  Dulu sewaktu SMA Sherly pernah sakit karena itu, ia pingsan saat upacara dan mengalami sesak nafas hebat, ia sangat lemah saat itu. Dan ia dirumah sakit beberapa hari. Saat Ryza tau itu, ia amat hancur dan karena itulah ia tau betapa berharganya Sherly untuknya, makanya ia lalu berani untuk mengutarakan perasaannya.  Selama dirumah sakit, Ryza lah yang setia menungguinya.  Sherly sering ditinggal oleh orang tuanya keluar negeri jadi ia kesepian, tapi semenjak bertemu lagi dengan Ryza ia tak pernah lagi merasa kesepian.  Banyak orang yang bilang kalau Ryza dan Sherly sangat serasi dan sangat cocok tak akan ada orang bisa memisahkan mereka.
Setelah turun dari Mobil Rudi, Ryza lalu berlari menuju koridor rumah sakit.  “Cepet Sally! Dimana ruangannya!” kata Ryza sambil menarik tangan Selly.  Sally mempercepat langkahnya, ketika dibuah ruangan ia berhenti dan mempersilahkan Ryza masuk duluan.  Dibukanya pintu kamar itu, langkahnya berlahan menghampiri seorang gadis manis yang sedang tertidur di atas tempat tidurnya.  Wajahnya sedikit pucat, namun tetap manis.  Ryza mendekat berlahan, lalu ia duduk disebelah tempat tidur itu.  Ryza pegang tangan lembut Sherly, “Sher, bangun, aku udah disini.” Kata Ryza pelan sambil terus menggenggam tangan Sherly.
Sally berdiri disamping tempat tidur Sherly. “Sherly sayang banget sama kamu, Ryz!” Kata Sally dengan menghela nafas.  Ryza hanya diam dan terus memandangi Sherly yang masih tidak sadar.  “Semua tentang kamu, ia simpan rapi dikamarnya!” Lanjut Sally.  Ryza menghapus air matanya yang menetes.  “Aku tak pernah tau kenapa aku begitu menyayanginya sejak awal, sejak pertama kali bertemu dulu, mungkin 15 tahun yang lalu.” Kata Ryza sambil tersenyum menatap  kearah Sherly.  Ryza mengusap rambut Sherly, terus saja menggenggam tangan Sherly yang sangat lembut itu.  Sally selanjutnya meminta pamit karena Ryza sudah ada disini, dan ia keluar.  Teman-temannya menyambut, dan Rudi mendorong-dorong Sigit agar ia mengantar Sally.  Lalu Rudi menyerahkan Kunci pada Sigit.   Dan mereka berjalan berdua sambil malu-malu, karena sepertinya Sally juga menyukai Sigit.
Fahmi yang ingin masuk mengurungkan niatnya karena melihat Sherly sudah sadar dan sedang berbincang dengan Ryza.  Ryza menoleh pada Fahmi mengkode agar Fahmi masuk saja, namun Fahmi menolak dan keluar kamar.  Diluar Fahmi melarang dulu yang lain untuk masuk, agar Ryza dan Sherly bisa menyelesaikan masalahnya dan bisa berbaikan lagi.  “Maafin aku Ryz!” kata Sherly.  “Maaf untuk apa? Gak ada yang perlu dimaafkan!” jawab Ryza dengan senyum dan mengelus rambut Sherly.  “Tapi?” kata Sherly lalu terhenti karena Ryza menyuruhnya jangan banyak bicara dulu.  Ryza menceritakan dan mengingatkan perbincangannya dulu dengan Ryza kalau mereka tak akan berpisah tanpa alasan yang jelas dan tanpa persetujuan kedua belah pihak.  Waktu itu sehabis pulang sekolah dibawah pohon taman sekolah, mereka mengukir nama mereka dipohon itu.  Dan menuliskan kalau cinta mereka tidak akan berakhir sampai kapanpun, bahkan dikehidupan selanjutnya mereka akan terus bersama, karena ketika bertemu Tuhan nanti, mereka akan meminta untuk terus bersama.

End


Tidak ada komentar:

Posting Komentar