Sherly sudah menunggu lebih dari 30
menit, hari itu hujan deras dan ia
sendiri diparkiran itu. Beberapa menit
kemudian Ryza datang dan turun dari sepeda motornya. “Maafin aku Sherly, tadi bannya bocor!”
dengan basah kuyub ia menghampiri Sherly yang sejak jadi menunggu. “Ehm, nggak papa og? Sini dikeringin dulu
baju kamu.” Jawab Sherly dan memberikan sapu tangan pada Ryza. Ryza pun mengantar Sherly pulang. Ryza merasakan sesuatu yang tak enak hari
ini, sepertinya ia akan kehilangan sesuatu yang berharga untuknya. Tapi ia tepis saat melihat senyum Sherly
lewat spiyonnya. “Mau makan dulu gak?” tanya Ryza saat melewati Warung
Steak. “Ehm, nggak ah, aku pengen langsung
pulang aja!” Jawab Sherly. Sesampainya
dirumah sebelum masuk. “Ryz, ada yang
mau aku omongin ke kamu!” Kata Sherly sambil memegang gagang pintu. “Ya, apa Sher?” Tanya Ryza penasaran. Sherly hanya menunduk dan terdiam. “Kamu marah?” tanya Ryza lagi. “Aku, gak bisa nerusin hubungan kita Ryz!”
kata Sherly sambil membalik badannya dan membelakangi Ryza. Ryza yang mendengar itu, seperti hatinya
sudah tersambar petir dan remuk berkeping-keping. “Sher, kamu marah karena aku telat jemput ya?
Iya aku minta maaf, tapi jangan bilang gitu ya?” Jawab Ryza agak gaguk. “Aku serius, Ryz. Mulai sekarang, kita gak
usah ketemu dan kamu gak usah repot-repot jemput aku!” kata Sherly lalu masuk
kerumah dan langsung menutup pintu.
Dibalik pintu itu, Ryza hanya bisa
terpaku dan merasakan betapa sakit hatinya.
Dan Ryza langsung pergi mengendarai motornya dengan kecepatan yang
bahkan melebihi Romi yang ugal-ugalan kalau naik motor. Dibalik pintu lain, Sherly terduduk dan
menangis tersedu. Hati dua Insan saling
menyayangi kini terluka, dan alam tau itu.
Hujan turun sangat deras, dan angin besar menghembus. Sherly lalu
beranjak dan mengusap air matanya. Menuju telepon dan menghubungi Fahmi, ia
menanyakan apakah Ryza sudah sampai atau belum.
Sherly terduduk lemas karena ia tau kalau Ryza belum juga sampai. Ia menyesal mengatakan itu pada Ryza yang tak
tau apa-apa.
Sesampainya di Kost Ryza langsung
menuju kamar mandi mengganti bajunya dan merebahkan dirinya ketempat
tidur. “Bro, tadi Sherly nelpon!” Kata
Fahmi. “kamu lagi ada masalah sama
Sherly?” sahut Ilham. “Aku diputus!”
Jawab Ryza lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Teman-temannya kaget, dan ingin minta
penjelasan. “Udah, biarin dia istirahat
dulu!” kata Fahmi menepuk bahu Ilham yang sejak tadi terus menarik selimut
Ryza.
Pagi ini semua kesiangan, karena Ryza
tidak membangunkan mereka. Fahmi yang
selalu berangkat pagi dan tidak peduli pada teman-temannya pun kali ini tidak
membangunkan Ryza yang biasanya bangun lebih pagi darinya. Romi dan Sigit
langsung bangkit saat mendengar penjual nasi kuning keliling melewati kontrakan
mereka. “shit, jam berapa sekarang! Rom,
bangun!” teriak Sigit dan mendorong Romi yang ada disebelahnya, Romi ketiduran
saat melihat bola tadi malam. Mereka
lalu buru-buru mandi, dan saat mereka mau berangkat mereka lewat di depan kamar
Ryza yang tidak ditutup, mereka sadar pasti sejak semalam kamar ini tidak
tutup, lalu mereka masuk, mereka kaget melihat Ryza yang masih tidur. “Ryz, bangun, kuliah gak, UTS lho!” kata Romi
sambil menarik selimut Ryza. Ryza hanya mengeliat dan menarik lagi selimutnya.
“Dingin banget!” kata Ryza. “Sakit Ryz?” kata Sigit lalu memegang kepala
Ryza. “Gak tau! Gak enak badanku!” kata Ryza lesu. “ku telpon Sherly ya?” kata Romi. Romi ingat
kalau kemarin Ryza sudah diputuskan oleh Sherly. “nich, maksn minum, kita berangkat dulu, bis
kuliah ini, ntar kita anter kamu kedokter.” Kata sigit membawakan sarapan yang
disiapkan Ilham pagi tadi sebelum ia berangkat.
“Kalau Rudi tau Sherly sama Ryza
putus, bisa gawat nich!” Kata Romi, sambil mendorong kursinya kebelakang
selirik ke 2 temannya dibelakang, Fahmi dan Ilham. “Kenapa emang?” Sahut Ilham
memainkan pulpen dan mencondongkan badan ke depan agar dosen tak melihatnya
berbincang-bincang. “Kita udah
bareng-bareng nglakuin hal gila, Cuma buat Sherly coy!” bisik Sigit yang ada
disamping Romi. “Udahlah, ntar aja
diomonginnya, kita juga belum tau gimana ceritanya.” Bisik Fahmi. Dan mereka kembali fokus mengikuti kuliah,
beruntung UTS diundur, karena Dosen lupa membawa soal. Dua hari lalu Rudi pulang kampung karena
adiknya sakit.
Dua hari kemudian Rudi pulang, ia
membawa oleh-oleh untuk kawannya. Ia
membagikan masing-masing dan juga untuk pacar-pacar temannya juga. Saat Ryza keluar dari kamarnya Rudi langsung
memberikan suatu bungkusan untuknya. “Nich buat kamu sama Sherly!” Kata Rudi
dengan senyum cerianya. “Oh, tq Bro!”
Jawab Ryza dan mengambil bungkusan itu.
Fahmi, Romi, Ilham dan Sigit hanya membisa saja. Ryza duduk disamping Rudi, ia tersenyum saat
melihat bungkusan itu. Lalu ia memeluk
sahabatnya itu, “Rud, aku kehilangan
dia!” kata Ryza dengan sedikit meneteskan airmata. Rudi lalu mendorong Ryza, ia marah “Siapa
yang berani ngrebut cewek sahabatku?” katanya.
“Gak ada yang ngrebut, dia mutusin aku!” jawab Ryza tertunduk. Mereka semua terdiam, Rudi lalu beranjak dan
keluar sambil membanting pintu. Fahmi
menyusul Rudi, diikuti Ilham dan Sigit, sedangkan Romi menenangkan Ryza.
Beberapa saat kemudian Rudi datang, ia
menghampiri Ryza, “Maafin aku bro, aku Cuma gak rela kalian putus tanpa alasan
gini” kata Rudi sambil menepuk Ryza. Tak
lama kemudian, Sillaa masuk terengah-engah, dan langsung menuju ruang TV tempat
mereka ber6 tadi berkumpul. “Ryz, Sherly
Ryz!” kata Silla terengah-engah. Ryza
mendengar nama Sherly lalu bangkit, “Sherly napa Sill?” tanya Ryza penuh
kecemasan. “Sherly masuk Rumah Sakit
kemarin, sekarang kondisinya gak baik.” Jawab Silla agak layu. Mereka semua lalu bangkit dan menuju rumah
sakit.
Sherly memang punya penyakit, ia Lemah
Jantung, karena itulah Ryza begitu memanjakan Sherlya. Dulu sewaktu SMA Sherly pernah sakit karena
itu, ia pingsan saat upacara dan mengalami sesak nafas hebat, ia sangat lemah
saat itu. Dan ia dirumah sakit beberapa hari. Saat Ryza tau itu, ia amat hancur
dan karena itulah ia tau betapa berharganya Sherly untuknya, makanya ia lalu
berani untuk mengutarakan perasaannya.
Selama dirumah sakit, Ryza lah yang setia menungguinya. Sherly sering ditinggal oleh orang tuanya
keluar negeri jadi ia kesepian, tapi semenjak bertemu lagi dengan Ryza ia tak
pernah lagi merasa kesepian. Banyak
orang yang bilang kalau Ryza dan Sherly sangat serasi dan sangat cocok tak akan
ada orang bisa memisahkan mereka.
Setelah turun dari Mobil Rudi, Ryza
lalu berlari menuju koridor rumah sakit.
“Cepet Sally! Dimana ruangannya!” kata Ryza sambil menarik tangan
Selly. Sally mempercepat langkahnya,
ketika dibuah ruangan ia berhenti dan mempersilahkan Ryza masuk duluan. Dibukanya pintu kamar itu, langkahnya
berlahan menghampiri seorang gadis manis yang sedang tertidur di atas tempat
tidurnya. Wajahnya sedikit pucat, namun
tetap manis. Ryza mendekat berlahan,
lalu ia duduk disebelah tempat tidur itu.
Ryza pegang tangan lembut Sherly, “Sher, bangun, aku udah disini.” Kata
Ryza pelan sambil terus menggenggam tangan Sherly.
Sally berdiri disamping tempat tidur
Sherly. “Sherly sayang banget sama kamu, Ryz!” Kata Sally dengan menghela
nafas. Ryza hanya diam dan terus
memandangi Sherly yang masih tidak sadar.
“Semua tentang kamu, ia simpan rapi dikamarnya!” Lanjut Sally. Ryza menghapus air matanya yang menetes. “Aku tak pernah tau kenapa aku begitu
menyayanginya sejak awal, sejak pertama kali bertemu dulu, mungkin 15 tahun
yang lalu.” Kata Ryza sambil tersenyum menatap
kearah Sherly. Ryza mengusap
rambut Sherly, terus saja menggenggam tangan Sherly yang sangat lembut
itu. Sally selanjutnya meminta pamit
karena Ryza sudah ada disini, dan ia keluar.
Teman-temannya menyambut, dan Rudi mendorong-dorong Sigit agar ia
mengantar Sally. Lalu Rudi menyerahkan
Kunci pada Sigit. Dan mereka berjalan
berdua sambil malu-malu, karena sepertinya Sally juga menyukai Sigit.
Fahmi yang ingin masuk mengurungkan
niatnya karena melihat Sherly sudah sadar dan sedang berbincang dengan Ryza. Ryza menoleh pada Fahmi mengkode agar Fahmi
masuk saja, namun Fahmi menolak dan keluar kamar. Diluar Fahmi melarang dulu yang lain untuk
masuk, agar Ryza dan Sherly bisa menyelesaikan masalahnya dan bisa berbaikan
lagi. “Maafin aku Ryz!” kata
Sherly. “Maaf untuk apa? Gak ada yang
perlu dimaafkan!” jawab Ryza dengan senyum dan mengelus rambut Sherly. “Tapi?” kata Sherly lalu terhenti karena Ryza
menyuruhnya jangan banyak bicara dulu.
Ryza menceritakan dan mengingatkan perbincangannya dulu dengan Ryza
kalau mereka tak akan berpisah tanpa alasan yang jelas dan tanpa persetujuan
kedua belah pihak. Waktu itu sehabis
pulang sekolah dibawah pohon taman sekolah, mereka mengukir nama mereka dipohon
itu. Dan menuliskan kalau cinta mereka
tidak akan berakhir sampai kapanpun, bahkan dikehidupan selanjutnya mereka akan
terus bersama, karena ketika bertemu Tuhan nanti, mereka akan meminta untuk
terus bersama.
End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar